<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SEBUAH JENDELA</title>
	<atom:link href="http://dianpramesti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dianpramesti.wordpress.com</link>
	<description>MENYERAHKAN KAMAR INI PADA DUNIA</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 05:27:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dianpramesti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SEBUAH JENDELA</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dianpramesti.wordpress.com/osd.xml" title="SEBUAH JENDELA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dianpramesti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bukan Berbasa-basi tentang Waktu</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bukan-berbasa-basi-tentang-waktu/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bukan-berbasa-basi-tentang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[PARADIGMA KEILMUAN]]></category>
		<category><![CDATA[REFLEKSI DAN KONTEMPLASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Prolog: “People say this is my birthday. But how do I celebrate birthday on Sunday when I was born on Monday? This is certainly not my birth-DAY!” kata si bocah ngepet pada tanggal 4 Juli 2010. Jika kemarin adalah tanggal 4 Juli 2010 dan aku lahir pada tanggal 4 Juli 1988, maka banyak orang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=138&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Prolog:<br />
“People say this is my birthday. But how do I celebrate birthday on  Sunday when I was born on Monday? This is certainly not my birth-DAY!”  kata si bocah ngepet pada tanggal 4 Juli 2010.</p>
<p>Jika kemarin adalah tanggal 4 Juli 2010 dan aku lahir pada tanggal 4  Juli 1988, maka banyak orang akan menganggap bahwa usiaku adalah 22  tahun. Barangkali kamu juga akan berpikiran demikian, kan? Buktinya,  kemarin saja aku mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun dan doa.</p>
<p>Tapi buatku, kedua tanggal itu tidak membuktikan waktu yang telah  kuhabiskan di dunia. Jika waktu hanyalah detik, menit, jam, hari, pekan,  bulan, tahun, abad, dst, maka sesungguhnya waktu tidak pernah ada! Dia  hanyalah dimensi khayal yang diciptakan oleh manusia. Jika waktu adalah  detik, dan detik hanyalah representasi aktivitas atom Caesium 133, maka  di tempat yang tidak terdapat atom Caesium 133, di sana waktu tidak  pernah ada! Jika waktu adalah tahun, dan tahun hanyalah representasi  aktivitas bumi, maka tempat di mana tidak terdapat bumi, di sana waktu  tak eksis! Apalagi jika waktu adalah abad, maka waktu hanya dimiliki  oleh orang bumi yang membuat konsensus tentang kalender!</p>
<p>Celaka sudah, jika waktu adalah detik, menit, jam, hari, pekan, bulan,  tahun, abad, dst. Jika sudah begitu, maka sudah ada milyaran orang  membodohi diri mereka sendiri, salah satunya dengan menyanyikan lagu  selamat ulang tahun, sambil merayakan khayalan-khayalan fiktif.</p>
<p>Kamu tidak terima? Ya, terserah.</p>
<p>Buktikan padaku, jika kamu menganggap bahwa waktu itu benar-benar ada!  Jika kita tidak mampu membuktikannya, kita hanyalah sekumpulan manusia  bodoh yang telah memperdaya diri sendiri.</p>
<p>Maka menurutku, adalah bijaksana membuang semua anggapan bahwa waktu  adalah detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, abad, dst. Anggapan  semacam itu hanyalah akan menjauhkan kita dari kenyataan dan kebenaran,  menjauhkan kita dari diri kita sendiri.</p>
<p>Aku suka merujuk pada para fisikawan ketika aku harus membuktikan waktu.  Kamu boleh punya metode sendiri, itu bagus, selama metodemu mampu  membuktikan bahwa waktu benar-benar eksis, juga membuktikan bahwa selama  ini kamu tidak membodohi diri sendiri dengan mempercayai khayalan  fiktif.</p>
<p>Ahli fisika kalor, misalnya, akan menyebutkan waktu sebagai yang kita  butuhkan untuk memanaskan sekian materi benda sejumlah sekian derajat  dengan menggunakan sekian energi panas. Oh well, rumit sekali ya  nampaknya. Intinya, waktu adalah yang kita butuhkan atau habiskan untuk  mengubah atau melakukan sesuatu dengan menggunakan sejumlah energi.</p>
<p>Maka ya, bumi membutuhkan waktu untuk mengubah posisinya terhadap  matahari, untuk mengubah posisi salah satu titiknya terhadap sumbu  rotasinya. Maka ya, atom Caesium 133 membutuhkan waktu untuk melakukan  transisi antara dua tingkat hyperfine dalam keadaan tertentu pada suhu  tertentu. Kemudian, jika memang demikian adanya, mengapa aku ngotot  menyalahkan anggapan bahwa waktu adalah detik, menit, jam, hari, pekan,  bulan, tahun, abad, dst?</p>
<p>Sederhana saja. Waktu dapat kita ukur dan konversikan dalam detik,  menit, jam, hari, dst. Namun detik, menit, jam, hari, pekan, bulan,  tahun, dst, tidak akan pernah mampu membuktikan bahwa seseorang telah  berusia sekian waktu; karena detik hanya membuktikan aktivitas atom  Caesium 133; karena tahun hanya membuktikan aktivitas bumi terhadap  matahari; karena detik, menit, jam, hari, dst, tidak akan mampu  membuktikan usia kita, tidak mampu membuktikan waktu kita, dan tidak  mampu membuktikan aktivitas kita!</p>
<p>Usia kita adalah waktu kita, yang kita butuhkan dan habiskan untuk  mengubah atau melakukan sesuatu dengan menggunakan sejumlah energi. Maka  sesungguhnya usia kita bukanlah yang dihabiskan bumi untuk sekian kali  mengelilingi matahari, bukan yang dihabiskan oleh atom Caesium 133 untuk  sekian kali melakukan periode transisi.</p>
<p>Usia kita sesungguhnya adalah akumulasi dari yang telah dihabiskan oleh  kaki kita untuk melangkah dari satu tempat ke tempat lain, akumulasi  dari yang telah dihabiskan oleh akal kita untuk memahami ilmu ini-itu,  akumulasi dari yang dihabiskan oleh tangan kita dan juga setiap anggota  tubuh kita yang lain untuk mengubah dan melakukan sesuatu dengan energi  yang kita miliki, yang dapat dengan mudah kita konversikan pada yang  dihabiskan oleh atom Caesium 133 untuk melakukan sekian kali transisi  dan pada yang dihabiskan oleh bumi untuk mengelilingi matahari.</p>
<p>Sepakat, tidak? Terserah kamulah.</p>
<p>Jadi kurasa, seseorang telah mencapai usia atau masa hidup sekian adalah  bukan karena posisi bumi telah berubah sekian kali 360 derajat terhadap  matahari, tetapi lebih karena aktivitas yang telah dilakukan oleh orang  itu sendiri yang mengakibatkan perubahan posisi relatifnya terhadap  dirinya yang sebelumnya.</p>
<p>Epilog:<br />
Terima kasih banyak ya, teman-teman semua, untuk setiap ucapan selamat  dan doa, juga untuk tanpa ucapan selamat dan doa (terutama teman-teman  yang sudah mengenal harapanku di tanggal 4 Juli). Dan juga tidak lupa,  terima kasih banyak, buat seorang sahabat yang kurasa <a title="http://www.facebook.com/profile.php?id=1435595941#!/notes/giyanto-giy/demi-usia-kita/10150226644155217" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=409020366346&amp;h=ca37a43fb86ea35d6fe2905a858c38a4&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fprofile.php%3Fid%3D1435595941%23%21%2Fnotes%2Fgiyanto-giy%2Fdemi-usia-kita%2F10150226644155217" target="_blank">puisinya</a> akan kugunakan sebagai puisi di acara pernikahanku nanti, insyaAllah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/paradigma-keilmuan/'>PARADIGMA KEILMUAN</a>, <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/refleksi-dan-kontemplasi/'>REFLEKSI DAN KONTEMPLASI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=138&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bukan-berbasa-basi-tentang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prahlad Jani and the Anti-smoking Poster</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/125/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/125/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[PARADIGMA KEILMUAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[About a month ago, http://www.time.com/time published a photograph of Prahlad Jani in one of its pictures of the week. A very kind friend of mine, Muhammad Taufiqurrohman, passed the link to me and added a question on how the science of modern medicine could explain the prolonged fasting Prahlad Jani had been undergoing. Many have [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=125&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">About a month ago, <a rel="nofollow" href="http://www.time.com/time" target="_blank">http://www.time.com/time</a> published a  photograph of Prahlad Jani in one of its pictures of the week. A very  kind friend of mine, Muhammad Taufiqurrohman, passed the link to me and  added a question on how the science of modern medicine could explain the  prolonged fasting Prahlad Jani had been undergoing. Many have probably  read or heard about the man, but I was one of those who had not yet. So  here&#8217;s one astonishing introduction sentence for you about Prahlad Jani:  &#8220;He is a man on his 80s, who claims to have survived living without  consuming food and water ever since the age of 11.&#8221;</p>
<div style="text-align:justify;">
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=4063339&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=400342376346&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=400342376346&amp;id=760172280"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs319.ash1/28117_416955352280_760172280_4063339_3781686_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p style="text-align:justify;">In  the picture, Jani was shown to be sitting on a patient bed in a  hospital room, and looking like a healthy old man. On the very day the  picture was published, 26/04/2010, Jani was having his fifth observation  day at Sterling Hospital, Ahmadabad, India. Jani had consented to the  observation which had been being conducted by a panel of medical doctors  aimed to understand his &#8216;extraordinary&#8217; experience. The old man was  kept for fifteen days until 06/05/2010.</p>
<p>Back in 2003, Prahlad Jani too had been kept in the same hospital for  ten days observation. Both observations yielded the same result and  conclusion; that during the observations, Prahlad Jani had not eaten nor  drunk anything, had not passed urine and stool, yet his body remained  to be in well condition confirmed by various blood tests including  hormone level measurement, chemical blood measurement, and also by  various diagnostic imaging techniques including X-ray, USG, MRI,  angiograph, etc.</p>
<p>How does current medical science explain the phenomenon? How does a man  survive decades without food and water? There is no explanation yet, and  the current modern medical science would say, “That is impossible!”</p>
<p>Now what makes it impossible? Humans can’t survive living without food  and water for long period of time. Even the most-modest life does need  energy, and to human body, the energy comes from foods. Foods also  contain other non-energy-generating compounds that human body really  needs to maintain its physiological processes such as vitamins and  minerals. And about water, human body needs it for many purposes  including maintaining inner-body compartments balance and various  chemical reactions, regulating body temperature, serving as a medium of  toxin excretions, etc.</p>
<p>And above, “for long period of time” is mentioned, indicating  possibilities for humans to survive without foods and water for short  period of time. Short period of time survival is likely to happen  because human body generally has storage of those inside its own body,  including the energy storage in liver glycogen, muscle tissue, fat  tissue, and even storage of vitamins and minerals in liver, some blood  proteins, etc. What about water? Well, the body itself is composed  mostly of it! When the body fasts and does its bodily processes without  nourishment of exogenous (exogenous: coming from outside the body) foods  and water, it breaks down its storages to fulfill its needs. If the  fasting continues, the storages would eventually run-out and gradually  the body may fail its functions.</p>
<p>The last two paragraphs written above are what I’ve been taught at  school and how the current modern medical science explains the  impossibilities of the phenomenon. Generally, it rejects the idea that a  man can survive more than seven decades without food and water.</p>
<p>Nevertheless, even modern medical science itself is just a bunch of  possibilities and yet unproven impossibilities too. That’s what all  sciences are all about. They propose the answers to what, which, when,  where, and how things happen. And then, to some points of time, the  proposals are approved so they prevail at the time being. Sometimes,  many times, they can be just proven impossible and just be left to be  studied in subjects of history. Here, in the realm of sciences, the  scientific method serves as the approval committee.</p>
<p>And here is something, a man claims to have survive for more than seven  decades without food and water. It is really against quite established  scientific idea explained above. So, which one is true?</p>
<p>No, no, no, let us leave the question of truth. It’s really unwise and  not just to decide which one is true, in our capacity as human being,  right? Let us question: which one is possible? Is it the old man’s claim  or the scientific idea? Or may I say, both?</p>
<p>The scientific idea just suits many people in the world. In some places  of this world, many people die from being famish, and many still live  (let us assume) because they are adequately fed. Even many breatharians  (breatharians: people who believe that food and water are not necessary  and that humans can live in solely need of sunlight) tried to prove  their long period of time survival without foods and drinks, only died  to prove the otherwise. Generally, it is really hard to prove that the  scientific idea above is impossibility.</p>
<p>But there is other thing. If you read the observation report of Prahlad  Jani, you will find that his body was perfectly healthy without foods  and drinks. There were no signs of dehydration or hypoglycemia  (hypoglycemia: low blood sugar concentration); and also there were no  signs of cardiac, liver, kidney, and brain disturbances or compromises.  Even if the observations only proved ten and fifteen days survival  without foods and drinks; therefore, they could not apply to prove the  decades-long survival; from the generally believed scientific idea, we  could expect some signs of dehydration, hypoglycemia, and organs  compromise as the body was gradually breaking down its own storages.  Well, none of those happened in Prahlad Jani’s body!</p>
<p>How does the old man’s body manage to survive the prolonged fasting? In  search for the answer of the question, one of the medical doctors who  conducted the observation on Prahlad Jani proposed several possible  explanations. But it is still important to be noted that they have not  yet been proved scientifically and approved universally. I’d like to  mention two of them. First one is the body undergoes chronic adaption to  absence of foods and water which enables the body to expend much less  energy than it’s supposed to. Supporting the explanation, Prahlad Jani  had spent most of his time meditating during the observations.  Meditation itself can slow down metabolism, hence, reducing  energy/calorie requirement. Second explanation is that certain person  may be born with special genetic or phenotypic condition, i.e. that  person body can subtract energy from other than foods, or that person  has skin that can’t perspire and water can’t evaporate through, so the  body water still is kept in good balance even when he does not drink any  water, etc.</p>
<p>Prahlad Jani too had his own explanation. He believes that he had some  religious experience in his past when he’s so much younger and became  the follower of Hindu goddess, Amba. From that time on, Jani believes  that Amba has been sustaining him by feeding his body with invisible  elixir coming out through his palate, enabling him to survive for  decades without food and water. That is why, to honor Amba, he wears red  sari-like cloth, just like he did look in the photograph. Is he really a  saint or just delusional is not really what’s important here.</p>
<p><strong>But what exactly is happening?</strong></p>
<p>I personally think that Prahlad Jani is one good example of what Nassim  Taleb named as Black Swan phenomenon; it is unpredictable, it has  massive impact on what can be related to it, and after it finally  happens, it encourages us to propose possible explanation to it only to  be led to conclusion that the phenomenon is actually not a coincidence  and rather predictable. Such phenomenon really proves that we humans are  susceptible to making predictions about what should be happening based  on what generally happened in the past, leaving aside on other possible  things which don’t have such obvious repetition pattern.</p>
<p>When someone does a research to describe the characteristics of a  community, usually the researcher will come up with a result being  illustrated with a bell-curve. Most part of the community presents with  the characteristics close to the median, only the remaining much less  part of the community presents with extreme characteristics, sometimes  very extreme. Unfortunately, the rare extreme ones there are not pretty  much earning the concerns. People tend to focus to the common  characteristics and pay less attention to the rare extreme  characteristics. In a way, such behavior is prone to making them stick  to the general idea and forget the extreme one. That explains the way  people respond to the phenomenon of Prahlad Jani.</p>
<p>But should we really blame statistics for the happening of the  phenomenon? Should we consider the bell-curve as an antagonist for  letting us fail to predict such phenomenon? But hey, it’s not the  statistics! It is the way we interpret and treat statistics. It is we  who have been so unjust to what really happens, and not so honest about  the facts.</p>
<p>We doctors are the ones who say that a patient only has five years  remaining life, when a greater part of people with the same condition  had died after five years, and only much lesser parts had died even  before a year and had stayed alive even after ten years! I’m sorry, not  all medical doctors do such thing, that many would like to explain and  tell about what happened with the greater and lesser parts. But common  people are just mistakenly understanding this, or just are mistakenly  told the wrong way; that it has become popular thing in community for a  person with serious illness to be ‘judged’ by his/her doctor about the  remaining of his/her life.</p>
<p><strong>Yet there is something else.</strong></p>
<div style="text-align:justify;">
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=4063341&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=400342376346&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=400342376346&amp;id=760172280"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs289.snc3/28117_416955437280_760172280_4063341_5130620_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p style="text-align:justify;">There is a scary anti-smoking poster I’ve seen many times in many  different places, leaving pretty much impression in my mind. The poster  shows the body of a smoker, which doesn’t look like a human body to me,  at all. It has terrible hair, cancerous skin with many ulcers there, bad  teeth, bad lips, bad lungs, bad heart, and even two ugly feet. For me,  the poster only spreads myths, fears, and craps. It fails to educate  people, and why is that, because it represents the unknown extremely  extreme smoker!</p>
<p>Well, I guess that we just have to be fair with both the common one and  the extreme one, and know what to do with each of those two.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/kebudayaan/'>KEBUDAYAAN</a>, <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/paradigma-keilmuan/'>PARADIGMA KEILMUAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=125&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/125/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs319.ash1/28117_416955352280_760172280_4063339_3781686_a.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs289.snc3/28117_416955437280_760172280_4063341_5130620_a.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Selembar Kertas Karbon</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/selembar-kertas-karbon/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/selembar-kertas-karbon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN]]></category>
		<category><![CDATA[SENI DAN KOMPOSISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Selembar kertas karbon Yang dipinjam dari Tuhan Semusim lalu Diguna kini. Selanjutnya nanti. Selembar kertas karbon Pada secarik tabula rasa Digambar sewujud manusia Dengan sebuah nama. Lalu dua Tiga, empat, lima, hingga sepuasnya. Sekelompok orang tua, guru, dan pemimpin Mengkreasi miniatur-miniatur mereka Dengan lembar-lembar kertas karbon. Jadi satu, simpan lalu mainkan Gagal satu, remas lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=123&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selembar kertas karbon<br />
Yang dipinjam dari Tuhan<br />
Semusim lalu<br />
Diguna kini. Selanjutnya nanti.</p>
<p>Selembar kertas karbon<br />
Pada secarik tabula rasa<br />
Digambar sewujud manusia<br />
Dengan sebuah nama.</p>
<p>Lalu dua<br />
Tiga, empat, lima, hingga sepuasnya.</p>
<p>Sekelompok orang tua, guru, dan pemimpin<br />
Mengkreasi miniatur-miniatur mereka<br />
Dengan lembar-lembar kertas karbon.</p>
<p>Jadi satu, simpan lalu mainkan<br />
Gagal satu, remas lalu buang<br />
Jadi seribu, gagal seribu<br />
Mainkan seribu, buang seribu<br />
Hanya miniatur-miniatur dua dimensi.</p>
<p>Nyawa, kehidupan, dan kebebasan<br />
Yang dipinjamkan oleh Tuhan<br />
Masih tergadai hingga kini<br />
Untuk harga yang sukar dimengerti.</p>
<p>Maka itulah mereka<br />
Tabula rasa yang telah bergambar, bernama<br />
Berbatas hitam, tak berwarna.</p>
<p>Klaten, 15 Desember 2009</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/kebebasan-dan-kemerdekaan/'>KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN</a>, <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/seni-dan-komposisi/'>SENI DAN KOMPOSISI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=123&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/selembar-kertas-karbon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kodok</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/kodok/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/kodok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:31:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[REFLEKSI DAN KONTEMPLASI]]></category>
		<category><![CDATA[SENI DAN KOMPOSISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Dia tidak pernah dilahirkan oleh ibunya, tidak pernah pula dibanggakan oleh ayahnya. Sejak permulaan riwayatnya, ia dititipkan oleh Tuhan pada alam, demikianlah ia dibesarkan dan diasuh bukan oleh ibu dan ayah yang menyumbangkan substansi genetika buatnya. Tidak pernah ada dan tidak perlu ada panti asuhan untuk kepapaannya, makhluk itu tidak selemah dan serapuh manusia meski [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=120&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dia tidak pernah dilahirkan oleh ibunya, tidak pernah pula dibanggakan  oleh ayahnya. Sejak permulaan riwayatnya, ia dititipkan oleh Tuhan pada  alam, demikianlah ia dibesarkan dan diasuh bukan oleh ibu dan ayah yang  menyumbangkan substansi genetika buatnya. Tidak pernah ada dan tidak  perlu ada panti asuhan untuk kepapaannya, makhluk itu tidak selemah dan  serapuh manusia meski terabaikan dengan ketidakunggulannya.</p>
<p>Aku tidak menyaksikan pertumbuhannya hingga dewasa. Namun kupercaya  tanpa pernah mau repot menyangsikannya, bahwa ia dulu menetas sebagai  kecebong terpilih di antara telur-telur lain yang tidak menetas.  Selanjutnya dia tumbuh menjadi semakhluk kecebong berkaki, lalu berudu,  lalu kodok dewasa, melalui proses luar biasa yang menakjubkan bernama  metamorfosis yang konon tak sempurna. Namun persetan dengan  kesempurnaan! Metamorfosis tak mesti sempurna, dan tak mesti dilalui  makhluk tak berakal, tanyakan saja pada Franz Kafka bila tidak percaya.</p>
<p>Aku menyaksikan akhir hayatnya. Ketika tanpa maksud yang mampu kupahami  walaupun aku manusia disebut makhluk berakal yang paling sempurna, ia  memilih untuk masuk ke kamar mandi kami. Dia bisa memilih pergi ke  naungan pohon mangga dengan anggrek-anggrek, bernyanyi di selokan,  berpacaran di got, atau melompat ke dalam blender yang berputar. Namun  ia memilih masuk ke kamar mandi, dan manusia pun mendeklarasikan  peperangan pada Sang Amfibian.</p>
<p>Dan dia pun mati, karena memilih masuk ke kamar mandi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/refleksi-dan-kontemplasi/'>REFLEKSI DAN KONTEMPLASI</a>, <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/seni-dan-komposisi/'>SENI DAN KOMPOSISI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=120&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/kodok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bertualang di Atas Atap</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bertualang-di-atas-atap/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bertualang-di-atas-atap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[SENI DAN KOMPOSISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[CKLEK! Pintu kamar tertutup. Ibu baru saja keluar dari kamar kami. Aku melirik ke arah Randy yang masih berpura-pura tidur dengan mata tertutup. Tidak lama setelah itu Randy membuka matanya dan meringis kepadaku. “Sandy, kamu siap?” Randy bertanya kepadaku. Aku mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidur. Kami bersiap-siap untuk bertualang lagi. Sudah lama, aku dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=27&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">CKLEK! Pintu kamar tertutup. Ibu baru saja keluar dari kamar kami. Aku melirik ke arah Randy yang masih berpura-pura tidur dengan mata tertutup. Tidak lama setelah itu Randy membuka matanya dan meringis kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sandy, kamu siap?” Randy bertanya kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mengangguk kemudian bangkit dari tempat tidur. Kami bersiap-siap untuk bertualang lagi. Sudah lama, aku dan Randy selalu menyelinap keluar rumah saat kami seharusnya sedang tidur siang.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun kami berusaha untuk tidur, kami tidak pernah bisa tertidur. Dulu, kami hanya berpura-pura tidur saja. Tapi lama-kelamaan kami mulai bosan berpura-pura sudah tertidur dan kami ingin mencoba hal yang baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami menyelinap keluar melalui jendela kamar kami. Setelah melewati jendela, aku dan Randy berjalan diam-diam di atas genting karena kamar kami ada di lantai atas rumah kami. Randy yang pemberani berjalan di depanku, sedangkan aku mengikuti ke mana pun saudara kembarku itu pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita main ke rumah kosong yang ada pohon belimbingnya ya. Kamu ikut kan, Sandy?” Randy bertanya kepadaku. Aku langsung mengangguk dengan semangat. Kami akan berburu buah belimbing di rumah kosong!</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah kosong yang dimaksudkan oleh Randy itu ternyata sangat jauh dari rumah kami. Kami harus melewati banyak rumah, tentu saja dengan berjalan di atas atap. Aku dan Randy melewati rumah Rizal, , rumah Kak Erwin, lalu rumah Pak Muammar, rumah Michael, kemudian rumah Pak Kuwat, rumah Willy, rumah Pak Danu, dan banyak rumah lainnya yang tidak bisa aku sebutkan satu-satu karena aku memang tidak kenal dengan orang yang tinggal di rumah-rumah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasanya benar-benar seperti bertualang! Aku dan Randy harus berjalan diam-diam dan dengan hati-hati sehingga tidak ada orang yang tahu bahwa kami sedang berjalan di atas atap rumah. Kalau ketahuan, tentu saja bisa gawat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesampainya di rumah kosong itu aku merasa takjub dengan buah belimbing yang ada di sana. Buahnya benar-benar lebat. Dan aku pikir orang-orang tidak pernah memetik buah belimbing dari pohon itu karena di bawahnya banyak sekali buah belimbing yang membusuk.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu tahu rumah ini dari mana, Randy?” aku bertanya pada saudara kembarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Randy meringis lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pas ada lomba adu layang-layang itu, aku ke lapangan lewat sini,” jawab Randy.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku dan Randy mulai memetik buah belimbing yang dapat kami raih dengan mudah dari atas atap tempat kami berpijak. Wah, rasanya benar-benar manis dan menyegarkan di siang hari yang sangat panas!</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh, Sandy! Kamu tahu, nggak? Sebenarnya rumah Firmansyah ada di belakang rumah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh ya?” aku terkejut mendengar kata Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">Firman adalah teman sekelas kami. Aku dan Randy pernah ke rumahnya sekali dan kupikir Randy suka pada kakak Firman yang bernama Ilfa. Kak Ilfa memang cantik tapi tentu saja lebih tua daripada kami. Dia sudah kelas satu SMP.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu senang dong. Kamu ‘kan suka sama Kak Ilfa, Randy!” Aku tertawa sambil memakan buah belimbing.</p>
<p style="text-align:justify;">Randy meringis lagi. Dia berjalan ke arah bagian belakang rumah, kurasa untuk melihat rumah Firman. Namun tiba-tiba terdengar suara aneh yang sangat keras diikuti dengan suara Randy yang merintih kesakitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudaraku itu terperosok. Kupikir Randy menginjak bagian yang rapuh kemudian membuat atapnya rubuh sehingga dia terperosok ke dalam rumah. Aku langsung berjalan dengan hati-hati mendekati Randy untuk menolongnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Randy terperosok sangat dalam sehingga hanya bahu, tangan dan kepalanya saja yang terlihat. Aku bingung dan takut sekali. Kami sendiri tentu saja tidak bisa mengeluarkan Randy dari loteng rumah kosong. Kami butuh bantuan dari orang dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada apa suara tadi? Kalian ngapain di sana?”</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang kakak yang memakai seragam SMA bertanya kepada kami. Aku dan Randy tidak mengenalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tolong, Kak. Kakak saya jatuh.” Aku meminta tolong padanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa orang mulai berdatangan. Sebagian di antaranya adalah orang dewasa. Ada juga beberapa anak yang kami kenal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua orang laki-laki dewasa memanjat pohon belimbing untuk naik ke atap dan menolong Randy. Dengan bantuan mereka, Randy langsung bisa diselamatkan. Kami pun turun dari atap dengan menuruni pohon belimbing. Randy mendapat luka lecet di pahanya, tapi tidak berdarah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalian siapa?” Salah satu dari orang dewasa yang menolong kami bertanya kepada kami.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yang jatuh itu Randy. Kembarannya namanya Sandy. Mereka anak Pak James yang rumahnya dekat jalan besar.” Teman kami yang bernama Zulfahmi menjawab sebelum kami sempat menjawab.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibuku yang ada di rumah dipanggil. Kemudian ibuku berbicara dengan orang-orang dewasa. Aku dan Randy diam saja. Kami merasa takut sekali. Setelah itu kami pulang ke rumah bersama ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu sama sekali tidak berbicara pada kami bahkan ketika kami sudah sampai di rumah. Kupikir ibu sangat marah kepada kami karena kami pergi diam-diam dan kami juga merusak atap rumah milik orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu, aku sama Sandy minta maaf. Kami nggak akan nakal lagi. Kami janji setiap siang akan tidur di kamar,” kata Randy ketika ibu mengobati luka lecetnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Janji ya, jangan nakal lagi,” kata ibu sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami lega ternyata ibu tidak marah. Sejak itu aku dan Randy selalu tidur siang dan tidak pernah lagi menyelinap keluar.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/seni-dan-komposisi/'>SENI DAN KOMPOSISI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=27&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/bertualang-di-atas-atap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan dan Paradigma Penjajahan yang Menyertainya</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/pernikahan-dan-paradigma-penjajahan-yang-menyertainya/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/pernikahan-dan-paradigma-penjajahan-yang-menyertainya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Isu terkait pernikahan telah banyak digagas oleh para pejuang pergerakan feminisme, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun demikian, permasalahan yang diperjuangkan oleh feminis luar negeri dan feminis dalam negeri, tampaknya tidak selalu sama, tentu saja karena perbedaan kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, ideologi, dan sebagainya di masing-masing tempat. Dalam permasalahan terkait pernikahan, para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=108&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Isu terkait pernikahan telah banyak digagas oleh para pejuang pergerakan  feminisme, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun demikian,  permasalahan yang diperjuangkan oleh feminis luar negeri dan feminis  dalam negeri, tampaknya tidak selalu sama, tentu saja karena perbedaan  kehidupan ekonomi, sosial, politik, budaya, ideologi, dan sebagainya di  masing-masing tempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam permasalahan terkait pernikahan, para feminis luar negeri banyak  memperjuangkan tentang kesetaraan hak wanita dalam kehidupan rumah  tangga, keseimbangan tugas mengasuh anak antara ayah dan ibu, hak  seorang istri untuk menolak berhubungan seksual dengan suaminya, dan  sebagainya. Bahkan pada poin yang paling ekstrem, pernah digagas oleh  Sheila Cronan mengenai abolisi pernikahan. Cronan berpendapat bahwa  pernikahan merupakan suatu bentuk perbudakan terhadap wanita, dan  kemerdekaan kaum wanita tidak akan pernah diperoleh tanpa adanya  penghapusan pernikahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, berbeda dengan tren gerakan feminisme di luar negeri,  para feminis Indonesia dalam permasalahan terkait pernikahan, lebih  cenderung memperjuangkan penolakan dan pengaturan terhadap poligami;  pencatatan perkawinan, perceraian, serta rujuk; perlindungan terhadap  kekerasan dalam rumah tangga dan penelantaran; dan sebagainya. Hal yang  lain juga, para feminis negeri ini, mulai dari generasi Kartini hingga  generasi Gadis Arivia, merupakan para ibu dan istri yang baik dalam  kehidupan rumah tangga mereka. Maksud penulis, setidaknya para feminis  negeri ini tidak pernah menggagas sesuatu yang seekstrem abolisi  pernikahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis sejujurnya tidak pernah menisbatkan diri sebagai seorang feminis  atau pejuang feminisme. Namun, sebagai seorang manusia dan semakhluk  wanita, penulis seringkali dibuat teriritasi oleh sejumlah fenomena yang  terjadi di sekitar. Kalau boleh dimasukkan juga, termasuk gagasan  Cronan mengenai abolisi pernikahan yang secara tidak sengaja pernah  terbaca beberapa waktu lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Gerakan ini barangkali tidak perlu mengusung nama feminisme, yang pada  akhirnya memberi definisi paham yang mewakilkan seluruh dan setiap  wanita yang ada di dunia. Pada kenyataannya, tidak setiap dan seluruh  wanita sepaham dengan setiap gagasan yang mengandung label feminis.  Setidaknya penulis, satu dari sekian milyar wanita yang tengah hidup di  dunia, tidak selalu menyepakati setiap gagasan yang dimunculkan oleh  tokoh pejuang pergerakan feminisme.</p>
<p style="text-align:justify;">[Seperti disadarkan oleh Masyhur Aziz Hilmy empat tahun silam: menjadi  bagian dari suatu keseluruhan bukan berarti memiliki dan mewakili  keseluruhan, walaupun bagian-bagian tersebutlah yang memiliki wewenang  untuk menyusun kelompok representatif untuk mewakili keseluruhan massa.  Namun ironisnya, masih banyak wakil-wakil yang menyuarakan gagasan  pribadi atau golongan lebih dari gagasan keseluruhan yang mestinya  diwakilkan.]</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan pribadi penulis, terdapat sejumlah gagasan feminisme  yang justru melakukan penjajahan terhadap kemerdekaan kaum wanita. Pun  terdapat gejala-gejala yang ada di masyarakat terkait masalah  pernikahan, yang merupakan bentuk penjajahan terselubung terhadap  manusia-manusia yang menjalani pernikahan tersebut, tidak hanya kaum  wanita (ini yang baru bisa penulis sebut sebagai kesetaraan, yakni tidak  menafikan peran kelompok lain yang turut terlibat dalam suatu  permasalahan).</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk gagasan mengenai abolisi pernikahan, misalnya. Kelompok wanita  yang secara serius menjalani dan memuliakan peran serta tugasnya sebagai  seorang istri dan ibu tentu saja akan merasa bahwa gagasan tersebut  melakukan penjajahan terhadap kebebasannya dalam melakukan perjuangan.  Setidaknya terdapat puluhan wanita yang penulis kenal telah atau berniat  untuk mendedikasikan dirinya menjadi pahlawan di balik peran ibu dan  istri. Penulis sepakat bahwa seorang wanita dapat menjadi pahlawan bagi  kemanusiaan, hanya dengan menjalankan tugasnya sebagai ibu dan istri  (tanpa menafikan realitas bahwa seorang wanita dapat juga menjalani  peran-peran luar biasa lainnya secara sekaligus) dengan sebaik-baiknya.  Namun demikian, menjadi seorang ibu yang merupakan pahlawan bagi  kemanusiaan adalah suatu pilihan dan kemungkinan, seperti halnya menjadi  seorang ibu yang merupakan penjahat kemanusiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bentuk konkretnya penulis jelaskan demikian. Seorang ibu yang mampu  memberikan pengaruh dengan sangat baik kepada anak-anaknya, melalui  metode pendidikan dan pengasuhan apa saja, memiliki keleluasaan yang  meskipun terbatas untuk menjadikan anak-anaknya seperti Adolf Hitler,  Mahatma Gandhi, atau seperti Dadang bin Asep yang berjualan gado-gado di  komplek perumahan. Apabila berkenan untuk belajar dari peristiwa masa  lalu, tentunya akan dapat menilai seberapa besar pengaruh yang diberikan  Adolf Hitler dan Mahatma Gandhi bagi kemanusiaan. Pun jangan melupakan  karakter fiktif Dadang bin Asep yang berjualan gado-gado di komplek  perumahan. Barangkali memang tidak ada media yang mengabarkan ke seluruh  penjuru dunia yang lantas mengabadikan namanya dalam sejarah  kemanusiaan, tetapi dalam contoh ini, Dadang sang penjual gado-gado  mampu melahirkan kesadaran dan memberikan teladan luar biasa bagi  kemanusiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Putra Pak Asep tersebut, ketika berkeliling menawarkan dagangannya,  selalu memungut sampah yang terlihat oleh pandangannya kemudian  mengantarkannya ke tempat sampah. Awalnya tindakan tersebut terlihat  biasa saja. Namun kelamaan, anak-anak komplek yang masih kecil (dan  jangan pernah lupa bahwa anak-anak adalah peniru paling ulung) menirukan  kebiasaan yang terus dilakukan Dadang tersebut, sehingga muncullah satu  generasi pecinta lingkungan. Karakter mengharukan yang dimiliki oleh  generasi ini selanjutnya memberi inspirasi berupa teguran visual dan  kesadaran pada generasi lainnya untuk kembali peduli pada lingkungan.  Sebenarnya Dadang tidak hanya berkeliling di satu komplek, tetapi juga  di komplek-komplek pemukiman lainnya. Penjual gado-gado yang dulunya  selalu diajari oleh ibunya untuk cinta lingkungan ini, akhirnya  menularkan watak positif ke komunitas luas, karena seperti halnya  keburukan, kebaikan pun mudah menular. (Dan) budaya bernilai positif  tersebut ternyata berdasar pada nilai luhur yang ditanamkan oleh seorang  ibu pada anaknya. Bukankah luar biasa?</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tidak setiap ibu dan istri punya dedikasi yang baik untuk  menjadi pahlawan dan memfasilitasi suami serta anaknya untuk menjadi  pahlawan. Namun demikian, kelompok yang diceritakan oleh penulis eksis  di komunitas. Jika pernikahan dihapuskan, apakah tidak lantas  memberangus perjuangan luhur yang dilakukan oleh sebagian (barangkali  besar) komunitas wanita di dunia tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Itu baru satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, meskipun berpendapat bahwa abolisi pernikahan dapat menjadi  suatu belenggu bagi perjuangan kaum wanita dalam melakukan aktualisasi  diri, penulis juga memiliki pendapat yang barangkali berupa paradoks  terhadap pandangan pertama tersebut. Bahwa di masyarakat tengah terjadi  pernikahan-pernikahan yang tidak hanya menjajah kemerdekaan kaum wanita  untuk melakukan aktualisasi diri, tetapi juga kemerdekaan kaum pria.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernikahan merupakan suatu prosesi penyatuan yang sakral antara seorang  pria dan seorang wanita (secara konvensional penulis sebutkan demikian,  meski telah terdapat pernikahan yang menyatukan dua orang dari jenis  kelamin yang sama ke dalam satu keluarga). Sakral karena melibatkan  proses religius, sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan yang dianut  oleh yang menjalani prosesinya, sehingga tidak hanya melibatkan hubungan  antarmanusia, tetapi juga hubungan antara manusia dan Tuhannya. Melalui  proses pernikahan tersebut, lahir sebuah keluarga baru di komunitas  yang selanjutnya akan menjalankan berbagai peran dan fungsinya di  masyarakat. Dengan demikian, sebenarnya dan senyatanya pernikahan  mengemban suatu amanah bagi masyarakat, untuk terlibat dalam suatu  proses yang menjadikan komunitas berprogres ke arah yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Permasalahannya ialah, banyak sekali pernikahan telah terlaksana di  masyarakat yang melupakan amanah tersebut. Pernikahan seolah  mempersempit fungsi sebagai suatu bentuk pelegalan dan penghalalan  semata hubungan antara dua insan yang terlibat dalam ikatan emosional  yang disebut dengan cinta (dan pada kenyataannya, bentuk emosi ini  memiliki karakter mengikat, jika menolak untuk disebut sebagai  membelenggu), tanpa mengingat fungsi dan perannya yang lain bagi  masyarakat. Sebagian keputusan untuk menikah jarang melibatkan  pertimbangan kesamaan visi dan misi antara kedua insan yang akan  menjalaninya, jarang pula melibatkan pertimbangan (apabila diperkenankan  menggunakan istilah yang sering disebutkan oleh Danang Tejo Pamungkas)  chemistry antara karakter kedua insan yang menjalaninya. Oleh sebab  tersebut, pernikahan tidak selalu menjadi lingkungan yang memfasilitasi  perkembangan, tetapi dapat juga menjadi lingkungan yang mematikan  perkembangan insan-insan yang menjalani pernikahan serta masyarakat yang  disusun oleh keluarga baru yang terselenggara melalui prosesi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya pohon pisang yang hanya akan tumbuh dan menghasilkan  dengan baik di lingkungan tropis, manusia tertentu juga hanya akan  tumbuh dan menghasilkan dengan baik di lingkungan tertentu. Seorang  wanita penggagas kegiatan sosial terhadap masyarakat kelas menengah ke  bawah tentu tidak akan mampu bergerak dengan leluasa apabila bersuamikan  seorang pria yang tidak memiliki kepedulian terhadap penghapusan  kesenjangan ekonomi di masyarakat. Seorang pria penggagas kehidupan  politik dan pemerintahan yang adil dan sehat tentu tidak akan mampu  bergerak dengan leluasa (atau bahkan perlahan-lahan terkikis  idealismenya) apabila beristrikan wanita curang yang mengutamakan  kesenangan pribadi di atas segala-galanya. Namun, bagaimana apabila  wanita penggagas kegiatan sosial dan pria yang tidak memiliki kepedulian  terhadap permasalahan ekonomi di masyarakat tersebut saling mencintai  satu sama lain? Bagaimana apabila pasangan yang kedua juga saling  mencintai satu sama lain? Realitasnya di masyarakat, mereka menikah  kemudian saling menjajah satu sama lain, dan mematikan keleluasaan  perkembangan masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta mengalahkan segalanya. (Dan) hal yang buruk dalam kisah ini adalah  Cinta di sini membawa pada neraka dunia. *lebai*</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tidak setiap pernikahan digagas oleh insan-insan visioner  seperti yang penulis gambarkan di atas. Terdapat pula pernikahan yang  dijalani oleh pasangan-pasangan yang ingin memadu cinta, hidup  berbahagia, dan meneruskan keturunan saja. Penulis tidak akan teriritasi  oleh pernikahan yang terakhir disebutkan apabila manusia yang terlibat  di dalamnya secara pribadi memang hanya ingin memadu cinta, hidup  berbahagia, dan meneruskan keturunan saja dalam hidupnya. Namun, ketika  yang turut terlibat adalah manusia yang secara pribadi ingin meneruskan  ambisi sejak masa lajang untuk memberi lingkungan yang fasilitatif untuk  pertumbuhan masyarakat, penulis menjadi sangat teriritasi. Terlebih  lagi, apabila penulis menjadi tempat melacur (melacur adalah abreviasi  yang dipopulerkan oleh dr. Carla R. Machira, Sp.KJ untuk frase  “melakukan curhat”) insan-tak-lagi-lajang yang tersiksa dalam kehidupan  barunya karena tidak berpasangan dengan insan lain yang sevisi dan  semisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, tidak setiap pernikahan yang berdasar cinta semata  berlanjut pada kisah tragis penjajahan. Sehingga pendapat penulis tidak  cocok untuk digeneralisasi ke seluruh komunitas. Namun demikian, kisah  tragis dan penjajahan dalam pernikahan tersebut eksis di sebagian  komunitas. (Dan) hal tersebut adalah suatu permasalahan serius. *lebai  lagi*</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat pula sebagian orang di masyarakat yang memandang perjodohan  sebagai bentuk penjajahan terkait pernikahan. Manusia-manusia yang akan  menikah dijajah oleh pihak lain yang merasa ikut bertanggung jawab atas  kesejahteraan mereka. Namun demikian, penulis mengenal bentuk perjodohan  yang lain, yang populer di kalangan tidak luas yang gemar disambangi  oleh penulis. Dalam prosesi pranikah yang tidak melibatkan perkenalan  sebelumnya antara dua insan yang hendak menikah tersebut, persamaan visi  serta misi serta chemistry antara karakter kedua orang yang akan  menikah dijadikan pertimbangan utama. Selanjutnya, hal yang tidak pernah  dilupakan juga adalah, kerelaan atau ketidakrelaan kedua belah pihak  untuk berlanjut pada prosesi pernikahan senantiasa dihiraukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan penulis, perjodohan seperti di atas lebih memiliki  sedikit peluang untuk terjadinya penjajahan apabila dibandingkan dengan  pernikahan atas dasar cinta semata, terlebih lagi bentuk perjodohan di  masyarakat feodal dan tradisional yang tidak jarang akan membuat  seseorang mengeluh, “Duh Ayah Ibu, ini bukan perkara punya suami dokter,  pejabat, insinyur, pengacara, atau bahkan pemain bola. Ini adalah  tentang lingkungan seperti apa yang bisa saya berikan untuk dia,  lingkungan seperti apa yang bisa dia berikan untuk saya, dan lingkungan  seperti apa yang bisa kami berikan berdua untuk masyarakat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini, sekali lagi, hanyalah pengejewantahan opini pribadi (dan  barangkali kelompok), tetapi bukan opini keseluruhan publik. Catatan ini  ingin mengabarkan tentang gejala umum yang dipersepsi oleh sebagian  masyarakat. (Dan) tulisan ini bukan tentang gerakan feminisme.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/kebebasan-dan-kemerdekaan/'>KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=108&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/pernikahan-dan-paradigma-penjajahan-yang-menyertainya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/mati/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/mati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 16:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[REFLEKSI DAN KONTEMPLASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Mati iku sejatine opo to? Yen manungsa wis ora urip maneh, opo iku sing diarani mati? Iso ora, manungsa urip ananging mati? Ugo ono ora, manungsa mati ananging urip? Opo jalarane Mbak Elin susah atine amarga Kartini mati muda? Opo sakjane sing nyusahne ati perkoro mati kawit isih nom? *** Dulu, setahun lalu, aku pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=106&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mati iku sejatine opo to? Yen manungsa wis ora urip maneh, opo iku sing  diarani mati? Iso ora, manungsa urip ananging mati? Ugo ono ora,  manungsa mati ananging urip? Opo jalarane Mbak Elin susah atine amarga  Kartini mati muda? Opo sakjane sing nyusahne ati perkoro mati kawit isih  nom?</p>
<p>***</p>
<p>Dulu, setahun lalu, aku pernah bercerita pada Theresa, bahwa aku takut  mati muda, lantaran kecintaanku yang amat sangat pada dunia. Kata  Theresa, orang biasanya takut mati karena tidak menjalani hidup mereka  dengan penuh kecukupan dan totalitas. Karena selama hidup, mereka tidak  cukup hidup, oleh sebab itu mereka takut kehilangan kehidupan. Orang  yang selalu merasa cukup, kata Theresa, tidak pernah akan takut  kehilangan apapun. Just live to the fullest, kata Theresa.</p>
<p>Lantas aku mengulang satu bait puisi Theresa yang kuhapal, yang  penulisnya saja sudah lupa:<br />
Live life to the fullest<br />
However empty, full for him<br />
Coz he&#8217;s not comparing the rest<br />
Not with group or team</p>
<p>Puisi itu menceritakan gagasan bahwa nilai kecukupan bersifat subjektif  dan tidak perlu dibanding-bandingkan dengan nilai kecukupan yang  dipegang orang lain.</p>
<p>Aku juga bercerita hal yang sama pada Jamal, tidak lama setelah itu.  Menurutnya, kualitas hidup tidak dicerminkan atas lama tidaknya hidup  yang dijalani. Kehidupan yang singkat dapat menjadi sesuatu yang luar  biasa ketika ia penuh berkah dan manfaat. Aku langsung ingat untuk  belajar pada padi di sawah, yang usianya tidak perlu panjang, tetapi  mampu memberi manfaat dan berkah pada manusia. Aku perlu belajar pada  tauge, sayuran favoritku, yang nampaknya tidak pernah protes pada Tuhan  karena tidak dibiarkan terus tumbuh menjadi tanaman kedelai atau kacang  ijo dewasa, dengan hidupnya yang barangkali dalam hitungan jam atau  hari, ia menghadirkan sayuran lezat yang tidak bisa disumbangkan oleh  tanaman kedelai dan kacang ijo dewasa.</p>
<p>Semoga usia kita senantiasa memberi manfaat dan diberkahi, betapapun  singkat atau panjang. Aamiin.</p>
<p>Sebulan lalu, aku bercerita pada Mas Agus, kadang-kadang aku merasa  takut mati sebelum mampu mewujudkan impian serta target pencapaianku di  masa depan. Aku takut mati tahun depan, karena tidak ingin melewatkan  perjuanganku untuk meraih target pencapaianku di tahun berikutnya. Aku  takut takdir kematian mengintervensi rencana-rencanaku. Kata Mas Agus,  &#8220;Sopo awakmu, Nduk? Opo sing apik soko rencanamu nganti wani rumangsa  ngluwihi rencanane Gusti?&#8221;</p>
<p>Dan takdir itu, ada yang predetermined, ada yang determinable.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/refleksi-dan-kontemplasi/'>REFLEKSI DAN KONTEMPLASI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=106&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Nekat dan Liar</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/antara-nekat-dan-liar/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/antara-nekat-dan-liar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 15:56:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[REFLEKSI DAN KONTEMPLASI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Percaya bahwa manusia memiliki akal, ruh, jasad, dan nafsu, adalah juga percaya bahwa manusia memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan. Kemampuan seringkali melibatkan manusia pada tindakan yang nekat, dan nekat itu dekat dengan liar bersama sejumlah pembedaan. Liar tidak mengenal pembatasan, tidak menyadari keterbatasan. Tidak taat aturan serta norma. Tidak mengenal tanggung jawab. Sementara tanggung jawab bukanlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=104&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Percaya bahwa manusia memiliki akal, ruh, jasad, dan nafsu, adalah juga  percaya bahwa manusia memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan.  Kemampuan seringkali melibatkan manusia pada tindakan yang nekat, dan  nekat itu dekat dengan liar bersama sejumlah pembedaan.</p>
<p>Liar tidak mengenal pembatasan, tidak menyadari keterbatasan. Tidak taat  aturan serta norma. Tidak mengenal tanggung jawab.</p>
<p>Sementara tanggung jawab bukanlah semata menerima konsekuensi setelah  melakukan kesalahan. Tanggung jawab justru lebih pada menjaga supaya  tetap melakukan sesuatu dengan benar dan semestinya sebagai konsekuensi  atas diambilnya suatu pilihan keputusan.</p>
<p>Karenanya, tidaklah arif menjadikan nafsu sebagai parameter kamanungsan  yang utama. Tidak arif membuat keputusan dalam kegelisahan. Sekarang  tinggal aku meretorika diri sendiri, &#8220;Kapan pemikiran dan tindakanku  dapat sedewasa usiaku?&#8221;</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/refleksi-dan-kontemplasi/'>REFLEKSI DAN KONTEMPLASI</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=104&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/antara-nekat-dan-liar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masalah Tak Teridentifikasi dan Kegagalan Solusi</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/masalah-tak-teridentifikasi-dan-kegagalan-solusi/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/masalah-tak-teridentifikasi-dan-kegagalan-solusi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 15:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[PARADIGMA KEILMUAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Bumi ini penuh dengan masalah, demikian pernah disampaikan oleh Ferry Fathurokhman. Eksistensi manusia di bumi, apabila bukan merupakan bagian dari solusi, maka pastilah merupakan bagian dari masalah. Bagi penulis, ungkapan tersebut membangkitkan suatu tantangan bagi kesadaran dan suatu pilihan: Mau menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi? Mengambil alternatif kedua dari pilihan tersebut, seseorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=99&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bumi ini penuh dengan masalah, demikian pernah disampaikan oleh Ferry  Fathurokhman. Eksistensi manusia di bumi, apabila bukan merupakan bagian  dari solusi, maka pastilah merupakan bagian dari masalah. Bagi penulis,  ungkapan tersebut membangkitkan suatu tantangan bagi kesadaran dan  suatu pilihan: Mau menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi?  Mengambil alternatif kedua dari pilihan tersebut, seseorang atau  sekelompok individu yang lebih besar tentunya akan berjuang untuk  menjadi solusi, memberikan solusi, atau mengkatalisis lahirnya solusi  terbaik bagi permasalahan yang telah muncul sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai pengiman dan pengamin ungkapan “there is nothing new under the  sun,” penulis pribadi meyakini bahwa solusi atas suatu permasalahan  sejatinya telah ada dan tidak perlu dibuat lagi oleh manusia. Namun  demikian, yang perlu diusahakan oleh manusia adalah bagaimana  mengupayakan penemuan atas solusi tersebut, atau dalam bahasa lain: how  to recover the solution. Berbicara tentang hal tersebut, Tuhan memang  Mahabaik, Ia menciptakan solusi untuk setiap permasalahan (walaupun  menurut Eko Mukminto, Tuhan jugalah yang telah mempermainkan manusia dan  menciptakan permasalahan), kemudian menantang para khalifah-Nya di  bumi, yakni manusia, untuk menemukan solusi terbaik yang mampu menjawab  permasalahan yang tengah terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menindaklanjuti suatu permasalahan, terdapat banyak sekali metode  yang digunakan oleh manusia untuk mengupayakan suatu solusi. Sejumlah  metode memungkinkan penemuan solusi secara instan, sedangkan metode  lainnya mesti menerapkan proses sistematik yang kadang-kadang mengandung  banyak tele-tele. Terdapat pula metode pencarian solusi yang luar biasa  dan terlalu tinggi tingkatnya untuk mampu dijangkau oleh nalar,  misalnya metode Ponari yang pernah populer beberapa waktu lalu. Namun  demikian, meskipun terdapat banyak sekali variasi yang dikandung oleh  tiap-tiap metode, pada dasarnya setiap metode tersebut mempraktikkan  tahap pertama yang sama, yakni identifikasi masalah. Hal tersebut tidak  terbantahkan walaupun seringkali tahap ini telah dianggap melebur  bersama dengan tahap-tahap pra-metode sehingga terkesan tidak termasuk  dalam prosesi pencarian solusi. Namun dapat dibayangkan, bagaimana  seseorang melakukan suatu proses pencarian solusi atas suatu  permasalahan tanpa pernah mengidentifikasi permasalahan tersebut  sebelumnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, pada hemat penulis, di sanalah terletak salah satu permasalahan  utama yang mendasari kegagalan penemuan solusi atas  permasalahan-permasalahan yang ada saat ini: pada kegagalan  mengidentifikasi masalah. Dipadukan dengan kegagalan dalam mencari akar  permasalahan yang sesungguhnya, kegagalan ini merupakan kegagalan utama  yang mampu mengantarkan pada keberhasilan semakin terakumulasinya  masalah di dunia. Lucu sekali ya, kegagalan yang mengantarkan pada  keberhasilan. =D</p>
<p style="text-align:justify;">Diambil dari permasalahan di bidang kesehatan, sesuai dengan kompetensi  inti yang dimiliki oleh penulis, disampaikan contoh sebagai berikut.  Tekanan darah tinggi atau hipertensi (secara gamblang dapat  didefinisikan sebagai tekanan darah lebih dari atau sama dengan 140/90  mmHg) merupakan suatu permasalahan serius dengan dampak yang tidak kalah  serius. Hipertensi dapat mengantarkan seseorang pada banyak sekali  kondisi yang tidak diinginkan, seperti serangan stroke, serangan jantung  koroner, dan bahkan gagal jantung, yang masing-masing dari ketiga  kondisi tersebut memiliki peluang yang cukup besar dalam mengantarkan  seseorang pada takdir yang tidak terbantahkan: kematian.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, seringkali di masyarakat luas, kondisi hipertensi atau  tekanan darah tinggi ini cenderung dianggap biasa, tidak mengganggu, dan  bukanlah suatu permasalahan, karena tidak memunculkan gejala atau hanya  memunculkan gejala yang minimal, misalnya sakit kepala saja. Penulis  sendiri sering menemui orang-orang dengan tekanan darah sistolik di atas  180 mmHg yang masih mengobrol dengan santai dan leluasa, tanpa keluhan  sedikit pun. Karenanya, hipertensi sering tidak dipersepsi sebagai suatu  permasalahan. Padahal kenyataannya, jantung terus-terusan dipaksa  memompa darah melawan perbedaan tekanan yang sangat besar, hingga mampu  menimbulkan pembengkakan jantung yang tidak mampu dikembalikan dan  akhirnya gagal jantung. Demikian pula, tekanan darah yang tinggi dapat  memecahkan pembuluh-pembuluh darah yang kecil di otak, sehingga secara  tiba-tiba serangan stroke dapat terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Persepsi bahwa hipertensi bukanlah suatu permasalahan” adalah akar  permasalahan yang cukup mendasar bagi permasalahan “tingginya angka  kesakitan dan kematian karena serangan stroke, serangan jantung, dan  gagal jantung.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga, tanpa mencari sampai akar permasalahan, dan tanpa adanya  kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, solusi bagi permasalahan  “tingginya angka kesakitan dan kematian karena serangan stroke, serangan  jantung, dan gagal jantung” agaknya akan sukar untuk ditemukan dan  diupayakan. Kegagalan yang sama juga sering terjadi pada ranah praktik  yang lain, misalnya kegagalan mengidentifikasi “terlalu banyak bermain  video-game dan terlalu sedikit belajar” sebagai permasalahan yang ada  pada diri seorang siswa, kegagalan masyarakat awam dalam  mengidentifikasi “praktik politik uang” sebagai suatu permasalahan  sosiopolitik, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Identifikasi masalah merupakan suatu tugas bagi tiap praktisi dan ahli  di bidang masing-masing, karena masyarakat awam seringkali tidak mampu  memahami sesuatu sebagai suatu permasalahan (sehingga tidak akan  mengupayakan suatu solusi atas permasalahan tersebut) oleh sebab proses  identifikasi masalah secara alamiah tidak memungkinkan untuk terjadi,  sementara permasalahan tersebut terus terjadi dan terakumulasi menjadi  permasalahan besar yang semakin memberi dampak buruk dan menjadi semakin  sulit diatasi. Menurut penulis, proses identifikasi masalah merupakan  aktivitas pertama yang mampu membangkitkan kesadaran untuk mengupayakan  suatu solusi, meskipun kesadaran tidak selalu akan muncul hanya dengan  melakukan identifikasi masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang penulis sampaikan di atas, yakni kegagalan dalam  mengidentifikasi masalah, sendirinya merupakan suatu permasalahan (yang  mendasari adanya permasalahan lain). Demikian pula, barangkali selama  ini telah terjadi kegagalan dalam menyadari “kegagalan-dalam-mengident</p>
<div style="text-align:justify;">ifikasi-masalah” sebagai suatu permasalahan  yang mendasari adanya permasalahan-permasalahan lain, bahkan di tengah  komunitas praktisi ahli.</p>
<p>Berbicara tentang hal tersebut, terdapat pandangan ideal bahwa seorang  praktisi harus mampu berpikir secara mendalam, sehingga tidak melewatkan  permasalahan mendasar yang disampaikan di atas, dan seorang pemikir pun  harus praktis dan pragmatis, sehingga tidak menjadikan pengetahuan yang  dimilikinya seperti pensil di dalam kulkas yang tidak mampu berguna  apa-apa. Apabila dinilai terlalu ekstrem, pandangan tersebut dapat  dijadikan sebuah pengantar baru menuju kesadaran akan pentingnya  kolaborasi dan kerjasama antara yang berpikir, yang melakukan, dan yang  mengevaluasi.</p>
<p>Selanjutnya, berbicara tentang kolaborasi dan kerjasama, solusi yang  berhasil ditemukan melalui proses pencarian yang seksama dan penuh  pertimbangan pun tidak akan menjadi sesuatu yang solutif terhadap suatu  permasalahan apabila tidak didukung oleh setiap komponen yang terkait  dalam permasalahan yang bersangkutan. Namun, apabila didiskusikan secara  mendalam, topik ini tentunya sudah tidak lagi relevan dengan judul dan  gagasan utama tulisan ini.</p>
<p>Semoga dibuatnya tulisan ini mampu menghadirkan kesadaran kolektif bahwa  kegagalan identifikasi masalah merupakan salah satu akar permasalahan  yang menjadikan semakin terakumulasinya problems-without-solutions-yet di dunia, mengantarkan pada  pemikiran-pemikiran dan praktik-praktik solutif lain yang  menindaklanjuti wacana ini, dan pada intinya: bermanfaat. Terima kasih  telah membaca.</p>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/paradigma-keilmuan/'>PARADIGMA KEILMUAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=99&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/masalah-tak-teridentifikasi-dan-kegagalan-solusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Merdeka Berarti Terbebas dari Penjajah</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/ketika-merdeka-berarti-bebas-dari-penjajah/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/ketika-merdeka-berarti-bebas-dari-penjajah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 15:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Telah banyak orang yang berbicara tentang makna kemerdekaan. Terutama pada hari-hari ini, Anda dapat mendapati tulisan-tulisan bertemakan kemerdekaan di banyak tempat: surat kabar, majalah, buletin, atau bahkan blog pribadi. Tulisan-tulisan tersebut pada umumnya mengajak pembacanya untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan kemudian mencocokkannya dengan kenyataan yang ada. Prosesi tersebut biasanya berakhir pada satu kesimpulan: Kita belum [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=96&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah banyak orang yang berbicara tentang makna kemerdekaan. Terutama  pada hari-hari ini, Anda dapat mendapati tulisan-tulisan bertemakan  kemerdekaan di banyak tempat: surat kabar, majalah, buletin, atau bahkan  blog pribadi. Tulisan-tulisan tersebut pada umumnya mengajak pembacanya  untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan kemudian mencocokkannya  dengan kenyataan yang ada. Prosesi tersebut biasanya berakhir pada satu  kesimpulan: Kita belum merdeka karena masih dijajah oleh bangsa sendiri.</p>
<p>Saya pun akan menulis tentang hal yang sama, menceritakan suatu gejala  yang menurut saya sepertinya belum pernah dikisahkan sebelumnya, tentang  saling menjajah. Jelas, kata “saling” memberikan makna resiprokal, yang  memiliki arti subjek dapat menjadi objek dan objek pun lantas menjadi  subjek.</p>
<p>Inti dari penjajahan adalah <em>homo homini lupus belium omnium contra  omnes</em>, bahwa manusia kuat memangsa manusia lemah. Sehingga,  penjajahan tidak hanya dapat dilakukan oleh bangsa kolonial terhadap  dunia ketiga, tetapi dapat juga dilakukan oleh penyedia layanan  kesehatan, penerima layanan kesehatan, dan penyedia biaya layanan  kesehatan.</p>
<p>Ketika seorang dokter menjajah seorang pasien, kekuatan yang dimiliki  oleh dokter tersebut terletak pada keilmuannya. Walaupun telah sering  disebutkan bahwa pasien zaman ini sudah pintar-pintar, tidak dapat  dipungkiri bahwa tetap saja pengetahuan yang dimiliki oleh pasien  mengenai kesehatannya lebih sedikit daripada pengetahuan yang dimiliki  oleh dokter. Maka selanjutnya, instrumen dan fasilitas berupa  pengetahuan inilah yang akan disalahgunakan untuk menjajah pasien.</p>
<p>Pasien dengan keluhan kesehatan tertentu seringkali mendapatkan  peresepan obat yang tidak semestinya. Seorang pasien dengan batuk karena  pneumonia, misalnya. Selain mendapatkan resep obat untuk batuknya, ia  juga mendapat resep untuk obat lain dalam lembar resep yang sama. Obat  lain tersebut diresepkan tanpa adanya indikasi pada kondisi pasien.  Dengan anggapan adanya superioritas keilmuan tentang kondisi pasien dan  obat untuk menanganinya, seorang dokter lantas menjajah pasien demi  menuai keuntungan pribadi. Apalagi pasien yang bersangkutan tidak  dijamin oleh asuransi kesehatan, maka bertambah leluasalah penjajahan  tersebut. Pasien diresepi suatu obat tanpa indikasi dengan sediaan salah  satu merk dagang paten dengan harga Rp 23.000,00 untuk tiap sediaannya.  Mengapa saya merasa berkewajiban menuliskan harga pada kalimat  sebelumnya? Karena untuk obat yang sama, kekuatan yang sama, komposisi  yang sama, dosis yang sama, cara pemakaian yang sama: hanya menanggung  harga Rp 3.500,00 untuk setiap sediaan generik.</p>
<p>Tidakkah hal tersebut menyakitkan batin Anda, seperti telah menyakitkan  batin saya?</p>
<p>Namun, jangan salah. Pasien juga dapat menjajah, dalam gejala yang  pernah saya saksikan, penjajahan ini dilakukan bersama-sama seorang  dokter, dilakukan terhadap penyedia biaya pelayanan kesehatan. Sesuai  dengan aturan yang melandasi teknis pelaksanaannya, asuransi mengatur  biaya tertentu untuk sakit tertentu, obat tertentu untuk sakit tertentu,  dan sebagainya.</p>
<p>Terdapat seorang pasien setelah minum suatu obat secara teratur dan  terus-menerus untuk penyakitnya, tetapi hingga saat itu masih belum  dirasakan membaik juga. Pasien meminta kepada dokternya untuk mengganti  obat yang diresepkan dengan obat lain yang lebih baik. Maka dokter dan  pasien bekerja sama menggunakan superioritas mereka, menjajah penyedia  biaya layanan kesehatan. Dengan wewenang dokter untuk menuliskan  diagnosis, maka dokter tersebut menuliskan diagnosis lain untuk pasien  yang bersangkutan (bentuk kelanjutan lebih parah dari penyakit yang  sebenarnya). Hitam di atas putih pada kolom diagnosis yang  ditandatangani oleh dokter tersebut pada akhirnya mampu mengklaim obat  lain yang lebih efektif dalam menangani penyakit pasien, sehingga pasien  dapat memperoleh obat tersebut secara gratis.</p>
<p>Mendapati kejadian di atas membuat saya tidak heran bahwa pemerintah  memiliki hutang yang luar biasa banyak pada perusahaan penyedia biaya  pelayanan kesehatan.</p>
<p>Hal yang sebaliknya pun terjadi, bahwa penyedia biaya layanan kesehatan  menjajah penerima layanan kesehatan. Dalam banyak kasus yang sering  terjadi, klaim yang diajukan kepada pihak asuransi sesuai dengan hak  konsumen asuransi tidak sama dengan layanan yang didapatkan oleh  konsumen (pasien). Pasien dengan sakit X dan resep untuk obat Y sejumlah  30 tablet, misalnya. Dalam hal ini, diagnosis X dan hak atas obat Y  sejumlah 30 tablet dalam sebulan adalah sudah benar dan sesuai dengan  standar pelaksanaan prosedur. Namun, pada kenyataannya pihak asuransi  tidak memberikan obat pada konsumen sesuai dengan hak mereka. Akhirnya,  pasien dengan asuransi harus membayar lebih banyak daripada yang  seharusnya mereka bayar.</p>
<p>Cacat yang terdapat dalam sebuah sistem lantas membuat masyarakat yang  diatur oleh sistem tersebut bersikap pesimis tapi mau menang sendiri  tanpa pernah ada kesadaran untuk memperbaiki sistem. Ketika ada pihak  yang bersalah dan mendapatkan keuntungan dari kesalahan tersebut, pihak  lain cenderung mencari keuntungan yang dengan caranya sendiri.  Menoleransi kesalahan orang lain, sehingga mendapatkan pembenaran untuk  kesalahan lain yang dilakukan oleh diri sendiri.</p>
<p>Tidakkah hal tersebut menyakitkan batin Anda, seperti telah menyakitkan  batin saya?</p>
<p>Yang dapat disimpulkan dari tumpukan buku sejarah mengenai kemerdekaan  bangsa Indonesia dari bangsa penjajah, Indonesia akhirnya dapat  memproklamasikan kemerdekaannya karena INGIN merdeka, sehingga lahir  perjuangan-perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Selanjutnya, dengan  rahmat Tuhan yang Maha Esa, kemerdekaan dapat diperoleh melalui  perjuangan-perjuangan tersebut.</p>
<p>Apabila keinginan untuk merdeka itu saja telah nihil, dan kita menikmati  diri kita sebagai orang-orang terjajah dan penjajah, belenggu atas  kemerdekaan menjadi sesuatu yang niscaya. Maka, apabila MASIH INGIN  menyalahgunakan dalih toleransi, mengeraskan nurani, menutup mata,  telinga, serta hati, enggan membaca gejala-gejala yang ada, dan mencari  keuntungan diri semata, jangan lantas ngambek pada Tuhan jika doa kita  atas kemerdekaan masih belum dikabulkan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://dianpramesti.wordpress.com/category/kebebasan-dan-kemerdekaan/'>KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=96&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2010/07/23/ketika-merdeka-berarti-bebas-dari-penjajah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perselisihan Budaya Dua Negara: Kesimpulan dan Masukan</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/perselisihan-budaya-dua-negara-kesimpulan-dan-masukan/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/perselisihan-budaya-dua-negara-kesimpulan-dan-masukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 05:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum menyampaikan kesimpulan dan masukan mengenai perselisihan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia, terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya. Yang pertama, karena keterbatasan penulis yang tidak dapat mendatangi pakar-pakar dan ahli informasi terkait permasalahan ini, penulis hanya menyalin tulisan pakar atau ahli informasi terkait yang disampaikan melalui beberapa media. Namun demikian, sebagian informasi lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=90&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebelum menyampaikan kesimpulan dan masukan mengenai perselisihan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia, terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama, karena keterbatasan penulis yang tidak dapat mendatangi pakar-pakar dan ahli informasi terkait permasalahan ini, penulis hanya menyalin tulisan pakar atau ahli informasi terkait yang disampaikan melalui beberapa media. Namun demikian, sebagian informasi lainnya didapat secara langsung dari pakar yang bersangkutan. Berbagai informasi yang didapatkan melalui media massa berita online, masih perlu dipertanyakan kembali, karena seperti telah diketahui saat ini terjadi banyak sekali penyesatan persepsi oleh media. Tulisan ini tidak final, akan terus diperbaharui apabila mendapat koreksi dan masukan dari pembaca, terutama koreksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang kedua, tulisan-tulisan yang mendahului tulisan ini merupakan penggabungan antara fakta dan opini pribadi, yang ditulis oleh seseorang dengan latar belakang pendidikan inti ilmu kedokteran. Bukan maksud saya untuk menyerobot hak teman-teman ilmu politik dan budaya untuk melakukan edukasi terhadap masyarakat sesuai bidangnya. Saya membuat tulisan-tulisan ini, karena melihat walaupun permasalahan ini didasari oleh masalah politik dan budaya, sebenarnya menyangkut kemanusiaan pada umumnya, sehingga tidak semata-mata merupakan kewajiban teman-teman dari bidang ilmu politik dan ilmu budaya.</p>
<p style="text-align:justify;">[Konsep yang kira-kira sama juga digunakan oleh UNESCO dalam proyek World Heritage, yang pada akhirnya menjadikan Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, dan beberapa situs lainnya sebagai milik dan tanggung jawab internasional, setelah didaftarkan oleh Indonesia ke UNESCO bertahun-tahun silam.]</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali juga tulisan semacam ini dibuat oleh seorang dokter muda seperti saya, bukan teman-teman dari ilmu politik dan ilmu budaya karena saya lebih terkait secara emosional, oleh sebab banyak sekali kawan-kawan mahasiswa berkebangsaan Malaysia yang belajar bersama kami selama beberapa tahun terakhir, sejak diterima di universitas hingga sekarang setelah kami lulus dari pendidikan strata satu dan melanjutkan ke pendidikan profesi. Tanpa memperpanjang kalam, berikut adalah kesimpulan yang dapat saya tarik dari perselisihan kebudayaan antara kedua negara:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Perselisihan      kebudayaan Indonesia-Malaysia ini terjadi karena kurangnya pemahaman      tentang sejarah kedua bangsa di masa lalu di mana terdapat banyak sekali      ‘orang Indonesia’ yang bermigrasi ke Malaysia, juga tentang hakikat      kebudayaan yang sebenarnya bahwa Indonesia dan Malaysia masing-masing      bukan merupakan satuan budaya melainkan satuan politik, dan konsep      pemetaan budaya yang berbeda antara masyarakat kedua negara.</li>
<li>Situasi      memanas yang terjadi tidak terlepas dari peran media massa, baik media      yang secara resmi beredar di masyarakat (koran, majalah, televisi termasuk      berita asli dan berita infotainment, radio, berita online, dan sebagainya)      maupun media tidak resmi yang menjadi sumber informasi bagi masyarakat      (forum diskusi di dunia maya, weblog pribadi, facebook, dan sebagainya).</li>
<li>Bentuk      kebudayaan yang sudah diwarisi secara turun-temurun hingga tidak diketahui      lagi penciptanya tidak dapat dilindungi oleh hak cipta, apalagi hak paten      (kecuali terkait teknologi pembuatannya).</li>
<li>Pendaftaran      bentuk kebudayaan tak benda ke ICH UNESCO bukanlah proses untuk      mengusahakan ‘hak paten’ atau bentuk hak kekayaan intelektual lainnya atas      suatu bentuk kebudayaan, melainkan usaha untuk melestarikan bentuk      kebudayaan tak benda dengan membangkitkan kesadaran dan bantuan      internasional.</li>
<li>Hubungan      yang baik antara kedua negara perlu terus dijaga untuk menjamin terus      berlangsungnya keamanan, ketertiban, dan kenyamanan masing-masing warga      negara yang tinggal di negara lain; juga untuk terus menjaga      berlangsungnya kerjasama di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan      keamanan antara kedua negara.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, masukan yang dapat direkomendasikan untuk seluruh komponen masyarakat dari kesimpulan terkait perselisihan kebudayaan antara kedua negara adalah:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Seluruh      masyarakat Indonesia, tanpa mengkhususkan pada pemerintah saja, rakyat      saja, anak muda saja, jurnalis saja, dan sebagainya saja, perlu untuk      mempelajari dan memahami tentang hakikat kebudayaan, latar belakang      persamaan budaya antara kedua negara, dan konsep pemetaan kebudayaan yang      dianut oleh kedua negara.</li>
<li>Seluruh      masyarakat Indonesia, lagi-lagi tanpa mengkhususkan pada kelompok      tertentu, perlu menyaring informasi yang diperoleh dengan kritis, sehingga      tidak disesatkan oleh informasi salah yang bersifat provokatif.</li>
<li>Seluruh      masyarakat Indonesia, lagi-lagi tanpa mengkhususkan pada kelompok      tertentu, perlu mempelajari dan memahami tentang hak kekayaan intelektual      dan penerapannya; juga membangkitkan kesadaran bahwa bentuk kebudayaan      yang didaftarkan ke UNESCO bukan untuk memberikan perlindungan ‘hak paten’      terhadap bentuk kebudayaan tersebut.</li>
<li>Pemerintah      RI, khususnya Presiden RI dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI perlu      mempublikasikan hasil kerja pada masyarakat secara terang sehingga tidak      menimbulkan persepsi negatif tentang pemerintah di mata masyarakat      Indonesia.</li>
<li>Pemerintah      RI, khususnya Presiden RI dan Departemen Komunikasi dan Informasi perlu      memberikan perhatian khusus terhadap media (resmi dan tidak resmi) yang      telah menyiarkan informasi keliru dan menyesatkan masyarakat, baik secara      sengaja maupun tidak sengaja demi terciptanya ketertiban dalam negeri dan      luar negeri.</li>
<li>Departemen      terkait, para pakar di bidang masing-masing, serta jajaran akademik yang      terkait perlu memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang latar      belakang sejarah, kebudayaan, serta politik (terkait menjaga hubungan yang      baik antarnegara).</li>
<li>Masyarakat      Indonesia yang memahami permasalahan kebudayaan ini dengan baik perlu      memberikan pendidikan pada masyarakat Indonesia lainnya yang masih belum      paham dengan permasalahan yang sebenarnya.</li>
<li>Yang terakhir dan tidak kalah penting: Kita perlu mengapresiasi, menjaga, dan melestarikan budaya kita (tentunya yang baik-baik, budaya korupsi, budaya tipu-menipu, budaya mudah tertipu dan disesatkan, dan budaya merokok serta hidup tidak sehat tidak usah termasuk)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah. Akhirnya final sudah hal-hal yang perlu saya sampaikan pada teman-teman pembaca sekalian. Semoga yang saya sampaikan di sini dapat memberi pencerahan dan manfaat, setidaknya bagi teman-teman di jaringan facebook dan wordpress saya. Terima kasih banyak, atas banyak hal yang telah diluangkan untuk berbagi di sini.</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=90&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/perselisihan-budaya-dua-negara-kesimpulan-dan-masukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lain-lain Terkait Perselisihan Budaya Kedua Negara</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/lain-lain-terkait-perselisihan-budaya-kedua-negara/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/lain-lain-terkait-perselisihan-budaya-kedua-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 05:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/lain-lain-terkait-perselisihan-budaya-kedua-negara/</guid>
		<description><![CDATA[Perselisihan dan Konflik Di masa lampau, kira-kira kurang dari seabad lalu, pernah terjadi Perang Dunia yang pertama. Peperangan tersebut melibatkan sejumlah negara, dan memberi dampak pada banyak sekali negara lain di dunia. Lebih dari lima juta tentara tewas, hampir tigabelas juta tentara mengalami luka (baik ringan maupun berat), dan sejumlah lebih dari empat juta tentara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=88&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Perselisihan dan Konflik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di masa lampau, kira-kira kurang dari seabad lalu, pernah terjadi Perang Dunia yang pertama. Peperangan tersebut melibatkan sejumlah negara, dan memberi dampak pada banyak sekali negara lain di dunia. Lebih dari lima juta tentara tewas, hampir tigabelas juta tentara mengalami luka (baik ringan maupun berat), dan sejumlah lebih dari empat juta tentara dinyatakan hilang dalam peperangan. Timbulnya pertempuran tersebut dilatarbelakangi oleh pertentangan di antara Jerman dan beberapa negara lain (Perancis, Inggris, dan Rusia), adanya beberapa persekutuan politik (yakni Perancis-Inggris-Rusia dan Jerman-Austria-Italia), dan persaingan persenjataan antara negara-negara yang bersekutu tersebut. Meskipun kondisi-kondisi yang melatarbelakangi pertempuran besar itu telah muncul sejak abad kesembilan belas, pertempuran yang sebenarnya baru pecah setelah terbunuhnya pangeran Kerajaan Austria, yakni Franz Ferdinand pada tahun 1914 oleh Jerman. Kematian Frans Ferdinand tersebutlah yang menimbulkan pecahnya peperangan setelah adanya sentimen politik yang tumbuh selama dekade-dekade sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hal yang ingin saya garis bawahi dari kisah masa lalu tersebut adalah, suatu perselisihan dapat terjadi selama berpuluh-puluh tahun lamanya sebelum akhirnya timbul suatu konflik. Apabila tidak diberi pemicu khusus, perselisihan akan terus bertahan tanpa berlanjut pada suatu konflik atau perang. Saya yakin, hal ini tidak hanya berlaku pada hal berskala superbesar seperti peristiwa terkait Perang Dunia I, tetapi juga dapat berlaku pada hal lain yang skalanya jauh lebih kecil. Saya sengaja menyinggung peristiwa sejarah tersebut, untuk saya jadikan cermin bagi kondisi yang terjadi saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berbagai permasalahan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia selama berpuluh-puluh tahun ini, barangkali memang menyisakan perasaan negatif di kedua belah pihak. Namun demikian, hubungan yang baik antara keduanya masih terjaga, dalam berbagai bidang. Hingga yang terakhir kali terjadi, perselisihan kebudayaan antara kedua negara, mampu memunculkan masa kritis kembali (walau hanya terjadi di tingkat masyarakat akar rumput) karena kembali diwarnai dengan seruan “Ganyang Malaysia,” pembakaran replika bendera, dan rekrutmen pasukan perang oleh sejumlah kelompok kecil masyarakat. Dalam pandangan saya pribadi, apabila tindakan tersebut berlanjut pada aksi konflik yang nyata, dapat menimbulkan kondisi yang benar-benar tidak diinginkan, seperti halnya, pembunuhan Frans Ferdinand yang memicu pecahnya PD I, walau tidak pada skala yang demikian besar. Padahal, seperti yang akhirnya dapat diketahui setelah membaca tulisan saya sebelumnya, perselisihan kebudayaan ini hanya terjadi di atas dasar kurangnya pemahaman dan kesalahan persepsi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Beberapa orang menyebutkan akan adanya kemungkinan bahwa kondisi yang menghebohkan ini sengaja dimunculkan oleh pihak tertentu, tetapi tidak ada yang tahu. Yang jelas, seperti halnya disampaikan oleh Prof. Ikrar Nusa Bhakti, permasalahan-permasalahan antara kedua negara masih dapat diselesaikan dengan baik, terutama tanpa melalui jalur “Megaphone Diplomacy.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kita dapat belajar dari peristiwa Perang Dunia I, bahwa perselisihan dapat berlanjut menjadi suatu konflik atau bahkan perang. Namun demikian, kita hendaknya tidak lupa juga bahwa terdapat kelanjutan yang lebih hemat dan menguntungkan, yakni resolusi atas perselisihan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemerintah yang Tidak Bekerja</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingat, beberapa tahun silam, pernah negeri ini diwarnai dengan banyak sekali peristiwa kecelakaan transportasi (baik darat, laut, maupun udara). Terdapat seorang pemuda seusia saya yang berseru menghujat pemerintah di sebuah forum diskusi di dunia maya. Dia sesungguhnya bukan mahasiswa yang bermimpi untuk menjadi Che Guavara di ruang akademik (meminjam istilah yang disampaikan oleh Goenawan Mohamad), tapi cukup percaya diri untuk berseru bahwa pemerintah, dalam hal ini menteri perhubungan, tidak pernah bekerja, dalam menanggapi berbagai peristiwa naas di tanah air. Mungkin hanya untuk meramaikan suasana, tapi mungkin juga karena pemuda tersebut benar-benar peduli.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">[Bukankah kita sering mendapati diri kita tiba-tiba peduli ketika muncul suatu masalah yang heboh, padahal biasanya hanya acuh tak acuh?]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Karena merasa geram dan beranggapan bahwa seruan provokatif tersebut dapat saja diamini dan dikiblati oleh anak muda lain yang tidak mengerti, saat itu pula saya menunjukkan beberapa dokumen yang ada di arsip komputer saya: keputusan menteri perhubungan yang terbit tahun itu. Kebetulan saya, sebagai pengguna jasa angkutan umum, menyimpan sejumlah kepmenhub untuk mencocokkan das sollen dan das sein tarif bus AKAP, khususnya alat transportasi bus Jogja-Solo yang saya gunakan setiap harinya. Saya tunjukkan pada pemuda tersebut seakan berkata, “Ini lho buktinya bahwa menteri perhubungan bekerja, kebalikan dengan yang kamu katakan.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebagian dari anak-anak muda yang menyebut diri mereka idealis dan peduli, gemar sekali dengan mudahnya melontarkan tuduhan-tuduhan tidak berdasar pada pemerintah, menyebut bahwa mereka tidak bekerja. Pada kenyataannya hanya, mereka belum melihat usaha yang dilakukan oleh pemerintah, atau mereka tidak sabar dan ingin menuai hasil secara instan, atau melakukan evaluasi sepihak sesuka hati tanpa mencari pemahaman yang benar terkait hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berbicara tentang hal yang telah dilakukan oleh pemerintah mengenai penyelesaian perselisihan kebudayaan ini, saya teringat dengan salah seorang teman yang menyampaikan bahwa kesalahan pemerintah dalam hal ini adalah tidak menceritakan kepada publik tentang hal-hal yang telah mereka kerjakan, sehingga membentuk persepsi publik bahwa pemerintah seperti sapi ompong, tidak mampu melakukan apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Untuk mengusahakan penyelesaikan atas permasalahan ini, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Malaysia Ahmad Badawi telah membentuk Eminent Person Group (EPG) yang beranggotakan sejumlah tokoh dari kedua negara. EPG bertugas membahas masalah peka yang berkembang di masyarakat Indonesia dan Malaysia. Hasil pekerjaan EPG dilaporkan pada kepala pemerintahan masing-masing negara untuk ditindaklanjuti, yakni bahwa ternyata permasalahan budaya yang berkembang di masyarakat terjadi karena kekeliruan persepsi dan kurangnya pemahaman tentang latar belakang persamaan budaya antara Indonesia dan Malaysia di mana sebagian besar warga negara Malaysia merupakan keturunan warga Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Enggan Memahami Sejarah dan Hakikat Budaya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain komunikasi yang masih minim dan kurang efektif (juga ironisnya, penyesatan persepsi melalui berbagai media komunikasi), permasalahan ini timbul karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang sejarah masa lalu kedua negara. Sejumlah pihak yang entah mengerti tentang sejarah atau tidak, bahkan dengan percaya diri melakukan history-abuse sebagaimana ditunjukkan pada saya (yang sebenarnya juga buta sejarah) beberapa hari lalu oleh Dave Lumenta, salah satu antropolog Indonesia, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Orang Indonesia pada dasarnya kan malas memahami sejarahnya sendiri, apalagi sejarah regional. Demam “Ganjang Malaysia” yang didengungkan orang-orang sekarang pada dasarnya sama sekali tidak melihat konteks sejarah ketika Soekarno menolak pendirian negara Malaysia. Bagi Soekarno, Malaysia adalah sebuah proyek neokolonial Inggris (dan maklum, Inggris kan juga mendukung pemberontakan Permesta, jadi Soekarno punya alasan kuat mencurigai negara-negara Barat). Identitas nasional Indonesia, seperti dirumuskan para pendiri Republik ini dalam Pembukaan UUD’45, dengan jelas dirumuskan sebagai antipenjajahan. Jadi, “Ganjang Malaysia” versi 1963 bukanlah sentimen anti-orang Malaysia (apalagi ‘budaya’), tapi sebuah sentimen anti-kolonial di tataran ekonomi-politik.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, membicarakan kebudayaan sebagai topik perselisihan antara kedua negara, Dave Lumenta menyampaikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Pertama, ini tidak bisa dipahami sebagai konflik budaya (bagi saya, Indonesia maupun Malaysia hanya merupakan satuan-satuan politik, bukan satuan budaya, jadi bagi saya tidak ada yang namanya ‘budaya Indonesia’ atau ‘budaya Malaysia’). Indonesia maupun Malaysia kan baru, sedangkan budaya Melayu, Jawa, Mandailing, dan banyak lainnya berumur lebih tua dari negara dan mereka memiliki batas kulturalnya sendiri yang melampaui batas negara. Wilayah budaya Melayu yang meliputi Riau, Singapura, Malaya, Natuna, Kalimantan Barat sudah ada sebelum negara kita lahir. Pada dasarnya batas kultural itu jauh lebih cair dibandingkan batas negara, dan di masa lalu terjadi banyak proses migrasi orang Jawa, Mandailing, Aceh, Bugis, maupun Minang ke Malaya. Jadi yang kita sebut sebagai ‘orang Malaysia’ pada dasarnya adalah berbagai kelompok etnis yang dulu berasal dari Indonesia. Proses pengalaman kolonialisme yang berbeda ditambah perbedaan proses politik aja yang membuat kita sekarang ‘terdampar’ dalam negara-negara yang berbeda.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Membaca kembali penjelasan Dave Lumenta membuat saya terdiam, merenung sekali lagi, ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang belum diselesaikan oleh pelajar bangsa ini, para penggerak dan pelaku pembangunan di masa depan.</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=88&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/15/lain-lain-terkait-perselisihan-budaya-kedua-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antarnegara: Konsekuensi Atas Pengakuan Kedaulatan</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/hubungan-antarnegara-konsekuensi-atas-pengakuan-kedaulatan/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/hubungan-antarnegara-konsekuensi-atas-pengakuan-kedaulatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 07:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun masih dicederai di berbagai belahan bumi (misalnya dengan penyerangan Israel atas Palestina, invasi Amerika Serikat terhadap Irak, dan juga usulan untuk menjadikan Malaysia sebagai propinsi ketigapuluh empat di Indonesia), kedaulatan suatu bangsa dalam wujud negara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan yang harus diakui keberadaannya. Demikian pernah dituliskan oleh Ferry Faturokhman, pengajar mata kuliah Hukum Internasional [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=86&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Meskipun masih dicederai di berbagai belahan bumi (misalnya dengan penyerangan Israel atas Palestina, invasi Amerika Serikat terhadap Irak, dan juga usulan untuk menjadikan Malaysia sebagai propinsi ketigapuluh empat di Indonesia), kedaulatan suatu bangsa dalam wujud negara sebenarnya merupakan suatu keniscayaan yang harus diakui keberadaannya. Demikian pernah dituliskan oleh Ferry Faturokhman, pengajar mata kuliah Hukum Internasional Fakultas Hukum Untirta. Keadaan tersebut menimbulkan suatu konsekuensi yang tidak dapat dihindari yakni, hubungan antarnegara. Hubungan antarnegara dapat berupa hubungan yang baik dan hubungan yang kurang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih mengutip penjelasan Ferry Faturokhman, hubungan yang baik biasanya terbentuk dan dibentuk dari kerjasama antarnegara yang bersangkutan, seperti perjanjian di bidang ekonomi, pertahanan keamananan, program pertukaran budaya, hingga perjanjian yang bersifat preventif dalam menangani kejahatan yang melibatkan dua negara yang bekerja sama. Sementara itu, hubungan yang kurang baik biasanya dipicu melalui konflik yang melibatkan kepentingan kedua negara yang berbeda, sengketa batas teritorial dua negara, hingga kebijakan suatu negara yang berdampak pada negara lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Di manakah signifikansi hubungan antarnegara ini? Disebutkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya globalisasi memberikan peran yang luar biasa pada kebutuhan melintasi batas negara dan berada di wilayah negara lain, baik untuk kepentingan bekerja, belajar, berwisata, bisnis, dan sebagainya. Di sana, pada hemat saya, terletak salah satu signifikansi hubungan antarnegara dan kebutuhan masing-masing negara untuk menjaga hubungan yang baik di antara mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula berlaku terhadap Indonesia dan Malaysia, dua negara yang masih terbilang sebagai satu rumpun ini. Dengan kawasan geografis yang cukup dekat, dan persamaan rumpun bangsa, perpindahan warganya melewati batas negara semakin difasilitasi. Terdapat banyak sekali warga negara Indonesia yang pergi dan tinggal sementara waktu di Malaysia untuk bekerja dan belajar, demikian pula warga negara Malaysia juga memiliki kepentingan untuk melintasi batas teritorial Indonesia dan berada di wilayah Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara gamblang, telah jelas bahwa hubungan yang baik antara kedua negara tersebut menjadi suatu keniscayaan (necessity) yang harus dipenuhi untuk menjamin keselamatan, keamanan, serta kenyamanan masing-masing warga di wilayah negara lain yang bersangkutan. Betapa telah jelas pula digambarkan beberapa tahun silam, bahwa sentimen warga negara Amerika Serikat terhadap warga negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim telah membuat rasa terancam dan tidak aman di hati para warga negara Indonesia yang kala itu berada di Amerika Serikat untuk berbagai tujuan. Demikian pula yang dialami oleh warga negara Malaysia yang kini berada di Indonesia dalam situasi perselisihan yang belum juga teredam walaupun telah diredam ini, yang terkandung dalam pernyataan salah seorang kawan saya, dokter muda asal Malaysia yang tengah belajar di Indonesia, Noor Hayati binti Sabtu, berikut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Salam Elisa, makasih ya atas pertanyaan kamu. Karena kamu aja yang nanya aku tentang bagaimana perasaan kami menghadapi isu-isu seperti sekarang ini. Jujur aku katakan, bukan aku sendiri, tapi semua anak Malaysia ga nyaman sama sekali. Tapi, kami semua sadar, kami hanya orang asing yang numpang belajar di sini, hanya dapat mendiamkan diri sebagai tanda hormat atau respect kami ke kalian.. Kami berdiam diri bukan bermaksud kami tidak mengambil tahu apa-apa, tapi kami coba untuk jaga hubungan yang baik sesama kita.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula yang saya rasa akan terjadi pada banyak sekali warga negara Indonesia yang tengah berada di Malaysia, seandainya media massa di negeri jiran tersebut menyiarkan berita sebebas media-media di Indonesia. Perlu diketahui, seperti pernah disampaikan oleh Prof DR. Ikrar Nusa Bhakti, profesor riset bidang intermestic affair Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bahwa Malaysia memberikan sensor yang begitu ketat terhadap berita-berita yang disiarkan di negeri tersebut, sehingga publik Malaysia (baik warga negara Malaysia maupun warga negara asing di sana) kurang memiliki akses terhadap berita-berita yang disiarkan oleh media di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Inti yang ingin saya bagi dalam tulisan ini, sama seperti yang disampaikan oleh Syafuan Rozi Soebhan, periset kebijakan politik untuk resolusi konflik Indonesia dan Malaysia ketika kembali mendorong saya untuk membuat tulisan ini, adalah situasi memanas yang terjadi di Indonesia terkait isu ini apabila tidak berhasil diredam akan menimbulkan konflik nyata yang dimulai di Indonesia, yang akan berimbas pula pada keterancaman warga negara Indonesia yang saat ini tengah berada di Malaysia, apabila tidak disikapi secara arif oleh kedua belah pihak. Warga negara Malaysia yang berada di Indonesia saat ini sangat jauh kalah dalam hal jumlah apabila dibandingkan dengan warga negara Indonesia yang berada di Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang saya merasa sangat perlu untuk tuliskan adalah banyak sekali isu yang muncul ke permukaan dan memicu respon berlebihan dari masyarakat Indonesia adalah suatu arahan persepsi oleh pihak anonim, yang telah terbukti sebagai omong kosong belaka, dan sedihnya sejumlah media masih meneruskan persepsi yang salah ke masyarakat. Bukan mustahil, seperti telah disampaikan oleh beberapa responden survei persepsi WNI tentang perselisihan Indonesia-Malaysia, fenomena yang tengah terjadi di masyarakat Indonesia saat ini sengaja dimunculkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang akan menuai keuntungan dari kerusuhan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, terdapat satu hal yang juga sangat saya sayangkan, terdapat universitas di Indonesia yang akhirnya membuat kebijakan untuk tidak menerima warga negara Malaysia sebagai mahasiswanya, karena isu perselisihan kebudayaan yang tengah berkembang di masyarakat akhir-akhir ini. Saya tidak menyebutkan keputusan tersebut sebagai sesuatu yang salah, tetapi menurut saya, keputusan tersebut dibuat secara emosional tanpa pertimbangan mendalam. Hal ini membuat saya semakin mendukung gagasan Syafuan Rozi Soebhan yang ingin menjadikan semua kebijakan negeri ini berbasis pada ilmu pengetahuan dan riset mendalam, dan berpijak pada paham ekopolitik.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal sebenarnya, apabila dihayati lebih lanjut, studi yang dilakukan oleh mahasiswa Malaysia di Indonesia, juga oleh mahasiswa Indonesia di Malaysia, bahkan yang ada di luar inisiasi program jalur G-to-G (government to government), akan memfasilitasi hubungan yang baik antara kedua negara. Lebih jauh lagi, pertemuan generasi muda antara kedua negara ini sangat dapat diambil manfaat oleh pemerintah sebagai sarana edukasi pada masyarakat mengenai latar belakang persamaan budaya antara kedua negara (sebagai informasi, hal ini merupakan salah satu kebijakan yang menjadi keputusan musyawarah EPG dalam mengatasi perselisihan budaya Indonesia dan Malaysia).</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali para mahasiswa ilmu politik yang bergelora memperjuangkan kausanya dengan menggelar demonstrasi di area fakultas saya (walau tidak diizinkan memasuki wilayah Fakultas Kedokteran UGM oleh petugas Satuan Keamanan Kampus) beberapa hari lalu tersebut kurang memahami isu ini, masih belum berhasil melihat peluang di setiap kesulitan, dan memilih untuk bersikap pesimistik daripada optimistik dalam memperjuangkan perbaikan. Demikian pula petinggi universitas, dengan wewenangnya melalui otonomi kampus, yang akhirnya membuat kebijakan untuk menolak mahasiswa Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">Puluhan tahun hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia tidak pernah sepi dari riak maupun ombak perselisihan sejak permulaannya pada Konfrontasi Indonesia terhadap Malaysia tahun 1963-1966 yang mempopulerkan slogan “Ganyang Malaysia,” selain “Singkirkan Tengku Abdurrahman,” dan “Amerika kita seterika, Inggris kita linggis.” Namun demikian, seperti doa yang diucapkan oleh Ferry Faturokhman ketika menyambut kehadiran putri keduanya di dunia:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Kami menamaimu Aisyah Fahiimah yang berarti Aisyah yang mengerti, Aisyah yang paham, cerdas. &#8230; Suatu hari ibumu pernah bertanya apakah engkau nanti tidak terbebani dengan nama Aisyah. Sebab Aisyah adalah nama istri nabi yang banyak menjadi teladan. Aisyah, ketahuilah, ada banyak nama Aisyah di dunia ini. Dan kau adalah Aisyah Fahiimah. Kau akan besar dengan namamu sendiri. Kau akan bertanggung jawab sebagai Aisyah Fahiimah, dunia akhirat. Adalah kewajiban kami memberimu nama yang baik. Nabi mengamanahi demikian. Dan Aisyah adalah nama yang baik. Hanya saja jika kau akan ke Amerika mungkin ada sedikit masalah. &#8230; Amerika punya sejarah kelam rasial. Hingga kini sisa-sisa sifat rasisnya masih ada. Entah jika nanti keadaan berubah. Tapi perlu dicatat bahwa tak semua warga Amerika rasis. Ada beberapa American yang juga bersahaja. Mungkin suatu saat kau dapat melihat dan memecahkan masalahnya. &#8230; Aisyah, selamat datang di bumi yang penuh masalah. Dan jika kita bukan bagian dari solusi, berarti kita bagian dari masalah. Maka jadilah solusi, di mana pun engkau berada. Kata Nabi, sebaik-baiknya orang adalah yang memberikan manfaat bagi sekitarnya. Maka, bermanfaatlah. Jadilah matahari. Biarkan senyummu menyejukkan bumi yang resah.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bahwa (salah satu gagasannya selain diperlukan kecerdasan serta pemahaman dalam menyelesaikan masalah, dan generalisasi seringkali menjadi kesalahan terbesar dalam membuat kesimpulan, adalah) kehadiran setiap insan di dunia merupakan suatu permasalahan atau suatu solusi. Maka akan lebih menguntungkan dan membawa manfaat apabila kehadiran kita adalah sebagai solusi. Perselisihan-perselisihan yang muncul hingga kini, yang belum juga teratasi, adalah suatu takdir yang telah terjadi. Namun demikian, sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan kebijaksanaan, yang terbaik yang dapat kita berikan adalah dengan tidak membuat kehadiran kita sebagai masalah sehingga menambah masalah yang telah ada, melainkan sebagai solusi akan permasalahan-permasalahan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih banyak telah membaca. Semoga dapat memberi manfaat.</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=86&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/hubungan-antarnegara-konsekuensi-atas-pengakuan-kedaulatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran Media dalam Menyampaikan Berita</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/peran-media-dalam-menyampaikan-berita/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/peran-media-dalam-menyampaikan-berita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 06:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Jean-Paul Sartre (1905-1980) pernah menyebutkan bahwa fungsi seorang penulis adalah untuk bertindak sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak tahu-menahu tentang ihwal dunia, dan sehingga tidak seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang tengah terjadi. Tanpa harus membenarkan atau menyalahkan pendapat tokoh penulis berkebangsaan Perancis yang pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=76&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jean-Paul Sartre (1905-1980) pernah menyebutkan bahwa fungsi seorang penulis adalah untuk bertindak sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak tahu-menahu tentang ihwal dunia, dan sehingga tidak seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang tengah terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tanpa harus membenarkan atau menyalahkan pendapat tokoh penulis berkebangsaan Perancis yang pernah menolak penghargaan Nobel sastra di atas, agaknya saya sepakat bahwa pengetahuan mengenai suatu ihwal permasalahan membebankan suatu tanggung jawab moral terhadap individu yang bersangkutan untuk turut menyumbangkan usaha dalam mengatasi permasalahan tersebut, tentunya usaha yang sebisanya dan seikhlasnya. Menginterpretasi pernyataan Sartre di atas, barangkali tokoh ini memiliki obsesi untuk mengabarkan permasalahan ke seluruh umat manusia, sehingga mereka semua dibuat tahu dan dibuat menerima tanggung jawab moral untuk turut menyelesaikan permasalahan tersebut. Nilai positif yang terkandung di dalam pendapat tersebut, seperti nilai gotong royong yang dianut bangsa Indonesia yakni, semakin banyak yang bekerja, semakin ringan dan cepat selesai pekerjaan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bagi saya pribadi, yang membuat suatu pengetahuan terlihat luar biasa agung dan penting di mata saya, adalah pengetahuan merupakan kunci kebijaksanaan seseorang dalam bertindak (dan saya meyakini bahwa Tuhan meninggikan derajat manusia yang memiliki ilmu), juga pengetahuan seseorang akan senantiasa mempengaruhi sikap dan tindakan yang dimanifestasikan oleh orang tersebut, yang dapat memberikan pengaruh pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan; juga pada munculnya suatu permasalahan atau terselesaikannya suatu permasalahan (dalam membicarakan konteks perselisihan antara Indonesia dan Malaysia).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Saya sendiri, sejumlah responden dalam survei yang mendahului tulisan ini, dan banyak sekali orang lain yang turut memberi perhatian terhadap permasalahan ini menilai bahwa peran media cukup besar dalam menimbulkan situasi memanas terkait perselisihan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. Dalam hal ini, yang saya sebut sebagai media adalah setiap sarana yang menjadi ruang informasi bagi publik, tidak terbatas pada surat kabar, majalah, buletin, liputan-liputan di situs berita online, berita di media elektronik, tetapi juga tulisan-tulisan pribadi yang dipublikasikan melalui selebaran bebas di masyarakat, weblog-weblog yang dapat diakses mudah oleh siapa saja, hingga tulisan yang terbaca di note dan status facebook seseorang. Hal-hal yang telah saya diskusikan di tulisan-tulisan yang mendahului tulisan ini menunjukkan bahwa telah terjadi penyesatan persepsi publik melalui media-media tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lantas, bagaimana idealnya suatu media itu bekerja?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Meskipun banyak kalangan masyarakat yang mengharapkan bahwa suatu berita atau informasi disampaikan secara sebenarnya dalam sudut pandang yang netral, agaknya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk menjadikan hal ini sebagai realitas. Bahkan setiap media cetak yang beredar secara resmi di Indonesia tidak banyak berbeda dengan setiap individu sebagai seorang penulis, yang masing-masing memiliki ideologi yang menghadirkan visi dan misi, yang tidak selalu sama untuk masing-masingnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Beberapa media dan penulis lebih memilih untuk menyampaikan berita dengan pandangan konservatif, sementara yang lain lebih berani menyampaikan informasi secara kontroversial dan mencengangkan publik pembacanya, tetapi jangan lupa bahwa keduanya masih terlepas dari penilaian benar/tidaknya informasi yang tengah disampaikan. Seseorang yang memiliki pandangan pada perang antara Indonesia dan Malaysia tentunya akan menyampaikan informasi untuk mempengaruhi publik menuju pandangan tersebut, sementara seseorang yang memiliki pandangan pada resolusi konflik secara damai antara kedua negara tersebut tentunya akan menyampaikan informasi untuk mempengaruhi publik menuju pandangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Seringkali terlupa oleh para penerima informasi, bahwa media yang menyajikan informasi yang dibacanya membawa kepentingan yang tidak selalu sama dengan media lain (dan kepentingan tersebut tentunya dipengaruhi oleh kepentingan para penulisnya, kepentingan sistem tempat penulis tersebut bekerja, juga kepentingan pemilik/penyandang dana media yang bersangkutan). Hal yang sering dilupakan oleh para penerima informasi tersebutlah yang menjadikan adanya perbedaan penyampaian berita/informasi mengenai peristiwa ataupun topik yang sama. Dengan demikian, mungkin memilih dan memilah sumber informasi memang merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan, walaupun kriteria yang digunakan antara individu satu dengan yang lainnya dapat berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Untuk profesi jurnalistik sendiri, telah terdapat kode etik yang disepakati oleh lembaga-lembaga jurnalistik Indonesia. Hal yang berisi dalam kode etik tersebut antara lain, adalah: menghormati hak masyarakat Indonesia untuk memperoleh informasi yang benar; menempuh tatacara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi; menghormati asas praduga tak bersalah; tidak mencampurkan fakta dengan opini; selalu meneliti kebenaran informasi, tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, dan cabul; tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesi; dan segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab. Mudah-mudahan para jurnalis Indonesia senantiasa sadar dan taat pada kode etik profesi mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Namun demikian, sesuai pengertian saya terhadap media yang tidak melulu media massa resmi, terdapat media lain berupa weblog pribadi, forum-forum diskusi di dunia maya, catatan facebook (seperti yang sedang pembaca sekalian nikmati saat ini), bahkan sesederhana status facebook seseorang. Karena tindakan penyampaian informasi melalui media-media tersebut bukanlah pekerjaan dari suatu profesi, tentu saja tidak dapat dikendalikan melalui kode etik atau aturan profesi. Atau barangkali perlu dibuat aturan untuk mengendalikan arus informasi yang disampaikan ke khalayak luas melalui media-media tak resmi tersebut?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kebebasan pers yang sudah diperoleh saat ini melalui perjuangan-perjuangan berat di masa lalu, semangat masyarakat untuk senantiasa berbagi informasi dengan masyarakat lain, dan hausnya publik akan informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang tengah terjadi agaknya menjadi kendala apabila ingin memunculkan suatu aturan ketat mengenai penyampaian informasi. Namun benarkah, untuk tetap berada dalam kondisi tenteram, aman, dan damai, kita perlu membatasi ketiga hal tersebut?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam pandangan saya, barangkali tidak usah sampai demikian, ASALKAN masyarakat mau bersikap kritis dalam mencerna informasi yang disampaikan pada mereka, sehingga tidak terjebak dalam provokasi-provokasi tertentu. Namun demikian, bahwasanya setiap orang memiliki tanggung jawab moral atas dirinya sendiri, dan bahwa kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri tentu lebih besar daripada kemampuan seseorang untuk mengendalikan orang lain, serta mengutip pandangan Sartre bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab atas suatu permasalahan, tindakan solutif dikembalikan pada diri masing-masing komponen yang ada. Para penyampai informasi tetap menyampaikan berita dengan etis, sementara para penerima informasi mencerna dengan kritis.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Jean-Paul Sartre (1905-1980) pernah menyebutkan bahwa fungsi seorang penulis adalah untuk bertindak sedemikian rupa sehingga tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak tahu-menahu tentang ihwal dunia, dan sehingga tidak seorang pun yang diperbolehkan untuk tidak bertanggung jawab atas apa yang tengah terjadi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tanpa harus membenarkan atau menyalahkan pendapat tokoh penulis berkebangsaan Perancis yang pernah menolak penghargaan Nobel sastra di atas, agaknya saya sepakat bahwa pengetahuan mengenai suatu ihwal permasalahan membebankan suatu tanggung jawab moral terhadap individu yang bersangkutan untuk turut menyumbangkan usaha dalam mengatasi permasalahan tersebut, tentunya usaha yang sebisanya dan seikhlasnya. Menginterpretasi pernyataan Sartre di atas, barangkali tokoh ini memiliki obsesi untuk mengabarkan permasalahan ke seluruh umat manusia, sehingga mereka semua dibuat tahu dan dibuat menerima tanggung jawab moral untuk turut menyelesaikan permasalahan tersebut. Nilai positif yang terkandung di dalam pendapat tersebut, seperti nilai gotong royong yang dianut bangsa Indonesia yakni, semakin banyak yang bekerja, semakin ringan dan cepat selesai pekerjaan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bagi saya pribadi, yang membuat suatu pengetahuan terlihat luar biasa agung dan penting di mata saya, adalah pengetahuan merupakan kunci kebijaksanaan seseorang dalam bertindak (dan saya meyakini bahwa Tuhan meninggikan derajat manusia yang memiliki ilmu), juga pengetahuan seseorang akan senantiasa mempengaruhi sikap dan tindakan yang dimanifestasikan oleh orang tersebut, yang dapat memberikan pengaruh pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan; juga pada munculnya suatu permasalahan atau terselesaikannya suatu permasalahan (dalam membicarakan konteks perselisihan antara Indonesia dan Malaysia).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Saya sendiri, sejumlah responden dalam survei yang mendahului tulisan ini, dan banyak sekali orang lain yang turut memberi perhatian terhadap permasalahan ini menilai bahwa peran media cukup besar dalam menimbulkan situasi memanas terkait perselisihan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia. Dalam hal ini, yang saya sebut sebagai media adalah setiap sarana yang menjadi ruang informasi bagi publik, tidak terbatas pada surat kabar, majalah, buletin, liputan-liputan di situs berita online, berita di media elektronik, tetapi juga tulisan-tulisan pribadi yang dipublikasikan melalui selebaran bebas di masyarakat, weblog-weblog yang dapat diakses mudah oleh siapa saja, hingga tulisan yang terbaca di note dan status facebook seseorang. Hal-hal yang telah saya diskusikan di tulisan-tulisan yang mendahului tulisan ini menunjukkan bahwa telah terjadi penyesatan persepsi publik melalui media-media tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lantas, bagaimana idealnya suatu media itu bekerja?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Meskipun banyak kalangan masyarakat yang mengharapkan bahwa suatu berita atau informasi disampaikan secara sebenarnya dalam sudut pandang yang netral, agaknya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk menjadikan hal ini sebagai realitas. Bahkan setiap media cetak yang beredar secara resmi di Indonesia tidak banyak berbeda dengan setiap individu sebagai seorang penulis, yang masing-masing memiliki ideologi yang menghadirkan visi dan misi, yang tidak selalu sama untuk masing-masingnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Beberapa media dan penulis lebih memilih untuk menyampaikan berita dengan pandangan konservatif, sementara yang lain lebih berani menyampaikan informasi secara kontroversial dan mencengangkan publik pembacanya, tetapi jangan lupa bahwa keduanya masih terlepas dari penilaian benar/tidaknya informasi yang tengah disampaikan. Seseorang yang memiliki pandangan pada perang antara Indonesia dan Malaysia tentunya akan menyampaikan informasi untuk mempengaruhi publik menuju pandangan tersebut, sementara seseorang yang memiliki pandangan pada resolusi konflik secara damai antara kedua negara tersebut tentunya akan menyampaikan informasi untuk mempengaruhi publik menuju pandangannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Seringkali terlupa oleh para penerima informasi, bahwa media yang menyajikan informasi yang dibacanya membawa kepentingan yang tidak selalu sama dengan media lain (dan kepentingan tersebut tentunya dipengaruhi oleh kepentingan para penulisnya, kepentingan sistem tempat penulis tersebut bekerja, juga kepentingan pemilik/penyandang dana media yang bersangkutan). Hal yang sering dilupakan oleh para penerima informasi tersebutlah yang menjadikan adanya perbedaan penyampaian berita/informasi mengenai peristiwa ataupun topik yang sama. Dengan demikian, mungkin memilih dan memilah sumber informasi memang merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan, walaupun kriteria yang digunakan antara individu satu dengan yang lainnya dapat berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Untuk profesi jurnalistik sendiri, telah terdapat kode etik yang disepakati oleh lembaga-lembaga jurnalistik Indonesia. Hal yang berisi dalam kode etik tersebut antara lain, adalah: menghormati hak masyarakat Indonesia untuk memperoleh informasi yang benar; menempuh tatacara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi; menghormati asas praduga tak bersalah; tidak mencampurkan fakta dengan opini; selalu meneliti kebenaran informasi, tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, fitnah, sadis, dan cabul; tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesi; dan segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab. Mudah-mudahan para jurnalis Indonesia senantiasa sadar dan taat pada kode etik profesi mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Namun demikian, sesuai pengertian saya terhadap media yang tidak melulu media massa resmi, terdapat media lain berupa weblog pribadi, forum-forum diskusi di dunia maya, catatan facebook (seperti yang sedang pembaca sekalian nikmati saat ini), bahkan sesederhana status facebook seseorang. Karena tindakan penyampaian informasi melalui media-media tersebut bukanlah pekerjaan dari suatu profesi, tentu saja tidak dapat dikendalikan melalui kode etik atau aturan profesi. Atau barangkali perlu dibuat aturan untuk mengendalikan arus informasi yang disampaikan ke khalayak luas melalui media-media tak resmi tersebut?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kebebasan pers yang sudah diperoleh saat ini melalui perjuangan-perjuangan berat di masa lalu, semangat masyarakat untuk senantiasa berbagi informasi dengan masyarakat lain, dan hausnya publik akan informasi mengenai peristiwa-peristiwa yang tengah terjadi agaknya menjadi kendala apabila ingin memunculkan suatu aturan ketat mengenai penyampaian informasi. Namun benarkah, untuk tetap berada dalam kondisi tenteram, aman, dan damai, kita perlu membatasi ketiga hal tersebut?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Dalam pandangan saya, barangkali tidak usah sampai demikian, ASALKAN masyarakat mau bersikap kritis dalam mencerna informasi yang disampaikan pada mereka, sehingga tidak terjebak dalam provokasi-provokasi tertentu. Namun demikian, bahwasanya setiap orang memiliki tanggung jawab moral atas dirinya sendiri, dan bahwa kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya sendiri tentu lebih besar daripada kemampuan seseorang untuk mengendalikan orang lain, serta mengutip pandangan Sartre bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab atas suatu permasalahan, tindakan solutif dikembalikan pada diri masing-masing komponen yang ada. Para penyampai informasi tetap menyampaikan berita dengan etis, sementara para penerima informasi mencerna dengan kritis.</p>
</div>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=76&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/peran-media-dalam-menyampaikan-berita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Hak Paten dan Pendaftaran Budaya ke UNESCO</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/tentang-hak-paten-dan-pendaftaran-budaya-ke-unesco/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/tentang-hak-paten-dan-pendaftaran-budaya-ke-unesco/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 06:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Karena kurangnya pemahaman tentang hak paten, hak cipta, serta hak-hak lain dalam ranah hak kekayaan intelektual, seseorang menjadi mudah terprovokasi mengenai isu terkait hak paten atas suatu budaya oleh bangsa lain yang dinilai tidak berhak. Ketika berbicara dalam konsep suatu kesenian, ilmu pengetahuan, dan karya sastra, maka yang dibicarakan adalah mengenai hak cipta. Hak cipta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=74&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Karena kurangnya pemahaman tentang hak paten, hak cipta, serta hak-hak lain dalam ranah hak kekayaan intelektual, seseorang menjadi mudah terprovokasi mengenai isu terkait hak paten atas suatu budaya oleh bangsa lain yang dinilai tidak berhak. Ketika berbicara dalam konsep suatu kesenian, ilmu pengetahuan, dan karya sastra, maka yang dibicarakan adalah mengenai hak cipta. Hak cipta hanya dapat dicantumkan pada suatu karya apabila jelas identitas penciptanya. Selanjutnya, hak cipta tersebut juga memiliki batas waktu, yakni sekian puluh tahun setelah penciptanya meninggal dunia. Dengan demikian, produk-produk budaya yang tidak jelas penciptanya karena sudah diwariskan secara turun-temurun tidak dapat dilindungi dan diklaim dengan menggunakan hak cipta.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, hak paten merupakan hak perlindungan kekayaan intelektual yang berhubungan dengan teknologi. Ketika seseorang berkata mengenai hak paten suatu batik, misalnya. Maka apabila digunakan tepat sesuai dengan tempatnya, memiliki makna bahwa hak tersebut melindungi suatu teknik pembuatan batik. Apabila saya menemukan teknik baru dalam membuat batik, untuk melindungi hak kepemilikan saya atas teknik yang saya temukan tersebut, saya dapat mengajukan hak paten, tetapi bukan hak cipta.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk budaya-budaya Indonesia yang juga dimiliki oleh Malaysia, karena latar belakang sejarah antara keduanya, yang tidak dapat diketahui siapa penciptanya, tentu saja tidak Malaysia, tidak pula Indonesia memiliki kewenangan untuk mencantumkan hak cipta pada bentuk kebudayaan tersebut. Nah, apalagi hak paten, karena penggunaan istilah “hak paten” saja sudah tidak sesuai pada mestinya. Lagi-lagi, perlu bagi kita untuk menelaah kembali informasi yang sampai pada diri kita sekalian, apakah suatu fakta senyatanya atau hanya provokasi media. Termasuk pula, rangkaian tulisan yang saya publikasikan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Sejumlah pihak bersorak-sorak gembira merasa menang, karena telah berhasil mendaftarkan wujud kebudayaan bangsanya ke UNESCO. Siapa cepat, dia yang dapat. Kira-kira demikianlah semboyan yang mampu menggambarkan gejala tersebut. Berita mengenai pendaftaran beberapa budaya Indonesia, seperti keris, batik, wayang kulit, dan sebagainya ke UNESCO yang dipublikasikan di seluruh media, saya rasakan membentuk persepsi yang kurang tepat mengenai hakikat mendaftarkan budaya ke UNESCO.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam salah satu berita yang dimuat oleh Portal Nasional Republik Indonesia (<a href="http://www.indonesia.go.id/">http://www.indonesia.go.id</a>) pada tanggal 6 Agustus 2008, disebutkan bahwa Forum Masyarakat Batik Indonesia (FMBI) telah sepakat untuk mendaftarkan batik ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Selanjutnya, seperti disiarkan oleh Kantor Berita Antara tanggal 7 September 2009, batik akhirnya akan terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh Indonesia melalui rangkaian acara yang berlangsung pada tanggal 28 September hingga 2 Oktober 2009 di Arab Saudi nanti. Nampaknya hal tersebut membangkitkan euforia tersendiri di kalangan pembaca berita yang bersimpati terhadap “kejahatan pencurian” kebudayaan Indonesia oleh Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Masalahnya adalah, saya menyangsikan orang-orang yang mengalami euforia setelah membaca berita tersebut benar-benar memahami isu yang sebenarnya terjadi. Bahkan mungkin, lagi-lagi persepsi keliru telah tertanam (atau barangkali ditanamkan) pada kepala kita, seluruh warga negara Indonesia. Kalimat terakhir masih merupakan anggapan imatur saya yang belum terbukti. Namun demikian, apabila ternyata para pembaca sekalian melalui berita yang disampaikan di media kemudian membentuk anggapan bahwa Indonesia mendaftarkan beberapa kebudayaannya ke UNESCO adalah untuk ‘mematenkan’ budaya secara internasional sehingga dunia mengenal bahwa Indonesia merupakan pemilik dari warisan budaya tak benda tersebut, maka anggapan imatur saya di atas terbukti benar. Penasaran? Silakan mengikuti kelanjutan tulisan saya.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah diketahui bersama oleh generasi saya sejak bangku Sekolah Dasar, UNESCO merupakan badan dunia yang mengurus kebudayaan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Fokus kerja UNESCO dalam bidang kebudayaan yang mengurus ihwal pendaftaran suatu bentuk kebudayaan menjadi warisan budaya tak benda yang saya dikemukakan dalam informasi di atas adalah Intangible Cultural Heritage (situsnya dapat diakses melalui <a href="http://unesco.org/culture/ich">http://unesco.org/culture/ich</a>, silakan dikunjungi apabila berkenan).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh ICH sehingga sampai repot-repot mengurusi berbagai warisan budaya tak benda di seluruh dunia?</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Warisan budaya tak benda (terjemahan bebas bahasa Indonesia untuk intangible cultural heritage) didefinisikan sebagai berbagai praktik, representasi, ekspresi, serta pengetahuan dan keterampilan masyarakarat, kelompok, atau dalam beberapa kasus, seseorang, yang dikenal sebagai warisan budaya mereka. Warisan budaya tersebut merupakan dorongan utama  keanekaragaman budaya yang keberlangsungannya merupakan jaminan atas kreativitas yang terus berlanjut, yang diwujudkan dalam antara lain: ekspresi dan tradisi oral termasuk bahasa; kesenian termasuk sandiwara, musik, serta tarian tradisional; festival, ritual, serta praktik adat lainnya; pengetahuan dan praktik yang berhubungan dengan alam dan dunia; dan kerajinan tradisional.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya terjemahkan dari situs resminya, bahwa Intangible Cultural Heritage (ICH) merumuskan tujuan kegiatannya untuk:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Menjaga      warisan budaya tak benda;</li>
<li>Memastikan      penghormatan terhadap warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh      masyarakat, kelompok, serta individu yang bersangkutan;</li>
<li>Meningkatkan      kesadaran lokal, nasional, serta internasional mengenai pentingnya warisan      budaya tak benda, dan apresiasinya satu sama lain; sehingga</li>
<li>Memberikan      kerjasama dan bantuan internasional.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya, kegiatan lembaga ini adalah memfasilitasi kelestarian warisan budaya tak benda dengan meningkatkan kesadaran hingga skala internasional, sehingga warisan budaya tak benda tersebut senantiasa lestari dan terjaga hingga akhir zaman. Hingga saat ini telah ada dua warisan budaya tak benda yang telah didaftarkan Indonesia dan masuk ke dalam kriteria intangible cultural heritage, yakni keris dan wayang kulit. Menyusul nanti, batik juga akan dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya tak benda.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Apa konsekuensi dari pendaftaran tersebut? Apakah lantas Indonesia memperoleh ‘hak paten’ internasional untuk keris, wayang kulit, dan batik?</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Sejauh yang dapat saya pahami dari situs ICH, jawaban saya untuk pertanyaan di atas adalah: TIDAK. Dalam halaman yang memuat Frequently Asked Questions di situs ICH yang telah saya tuliskan pranalanya di atas, pertanyaan yang terakhir disebutkan di sana tertulis demikian: “Are intellectual property rights dealt with by the 2003 Convention?”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">[Barangkali mesti dijelaskan sebelumnya, bahwa fokus kegiatan UNESCO di bidang kebudayaan ini berangkat dari hasil perjanjian atau kesepakatan negara-negara anggotanya dalam menggagas kebudayaan. Perjanjian atau kesepakatan tersebutlah (selanjutnya akan saya sebutkan dengan istilah Convention) yang menjadi inti penentu seluruh kebijakan dan kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini. Convention yang terakhir dilakukan pada tahun 2003 di Paris, dengan judul Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritages, dan menjadi penentu saat ini seluruh kebijakan dan kegiatan yang dilakukan oleh ICH. Isi Convention tersebut juga dapat diunduh dari situs ICH.]</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali pada pertanyaan di atas, apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, pertanyaan tersebut menjadi: “Apakah Convention tahun 2003 juga menangani tentang hak kekayaan intelektual?”</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Apabila pembaca sekalian mempercayai terjemahan saya, maka jawaban yang tertulis di sana adalah berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Convention tidak membicarakan mengenai hak kekayaan intelektual atau bentuk perlindungan hukum lainnya, tetapi disebutkan di sana bahwa ketentuannya tidak akan mempengaruhi hak dan kewajiban State Parties (istilah “State Party” mungkin punya maksud untuk merujuk pada lembaga negara yang mendaftarkan warisan budaya mereka atas nama negara yang bersangkutan) yang berasal dari instrumen internasional yang terkait dengan hak kekayaan intelektual. UNESCO akan terus bekerja sama dengan WIPO (World Intelectual Property Organization) yang mempelajari kemungkinan adanya pembuatan instrumen internasional yang mengurusi, antara lain, hak kekayaan intelektual dalam bidang cerita rakyat/warisan budaya tak benda.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Gagasan dalam jawaban di atas, yang juga dijelaskan dalam Ketentuan Umum Artikel Ketiga dalam Convention 2003, dapat saya interpretasikan bahwa hingga saat ini, Convention tidak menangani isu tentang hak kekayaan intelektual atas warisan-warisan budaya tak benda yang didaftarkan ke ICH. Namun demikian, UNESCO akan terus bekerja sama dengan WIPO untuk kemungkinan-kemungkinan adanya pembuatan instrumen internasional yang akan mengurusi hal tersebut, apabila nantinya memang ada warisan budaya tak benda yang telah dilindungi oleh hak kekayaan intelektual yang terdaftar di ICH. Para pembaca yang dapat memberikan interpretasi yang lebih baik dan benar untuk jawaban berbahasa Inggrisnya atau versi terjemahan saya, mohon untuk menuliskannya pada kolom komentar di bawah. Terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Telah jelas di sana, apabila ketika mendengar kabar bahwa keris, batik, serta wayang kulit telah didaftarkan ke UNESCO, para pembaca sekalian beranggapan bahwa Indonesia pada akhirnya memiliki hak kepemilikan alias “paten” atas ketiga wujud kebudayaan tersebut, maka kesimpulan yang dapat saya tarik (lagi-lagi) adalah: persepsi publik yang keliru. Namun, kalaupun pembaca selama ini memegang persepsi yang keliru, saya tidak akan sepenuhnya menyalahkan pembaca sekalian, karena bahkan media elektronik resmi berkala nasional pun menyebutkan dengan jelas dalam salah satu beritanya sebagai berikut (dalam versi online news):</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Untuk itulah, sejak tahun lalu Indonesia melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata mendaftarkan hak paten kain batik ke United Nations Educational Scientific Cultural Organization (UNESCO) agar bisa diakui dunia. Rencananya September mendatang UNESCO akan mengesahkan paten batik untuk Indonesia.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lantas, kalau bukan untuk mengusahakan hak kepemilikan budaya, apa yang sebenarnya dilakukan oleh UNESCO melalui ICH? Telah saya sebutkan di atas, bahwa pada dasarnya, ICH memfasilitasi kelestarian warisan budaya tak benda dengan meningkatkan kesadaran hingga skala internasional, sehingga dapat memunculkan kerjasama dan bantuan internasional untuk mengusahakan kelestarian warisan budaya tak benda tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meyakinkan pembaca, saya akan menunjukkan salah satu kegiatan yang sudah dilakukan setelah wayang kulit terdaftar sebagai warisan budaya tak benda di ICH, yakni Wayang Puppet Theatre Safeguarding Project yang dimulai sejak bulan Januari 2005 hingga Desember 2007. Proyek tersebut menjadi tanggung jawab perwakilan UNESCO di Jakarta, dan didanai oleh Japan Fund-in-Trust senilai 149.986 dollar AS. Kegiatan yang dilakukan melibatkan organisasi SENA WANGI dan PEPADI, untuk detail dari program tersebut silakan mengunduh <em>summary description of the project</em>-nya yang berupa file berformat .doc dari situs ICH di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, ada pertanyaan yang hendak saya kedepankan, apakah berbagai bentuk budaya yang telah menjadi tradisi turun-temurun (hingga tidak dapat diketahui lagi siapa penciptanya) misalnya batik, perlu dibuat hak cipta atau perlindungan hukumnya hingga tingkat internasional?</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika berbicara dalam acara bedah buku Menjadi Bangsa Pintar, Guruh Soekarno Putra, seniman Indonesia yang juga merupakan putra dari Ir. Soekarno, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus bangga karena telah memberikan kontribusi terhadap peradaban dunia, bukannya justru kebakaran jenggot. Guruh Soekarno Putra lantas memberikan contoh budaya Indonesia yang telah menjadi milik dunia, di antaranya pencak silat, candi Borobudur, dan masakan Padang. Menurutnya, seni dan budaya tidak perlu ‘dipatenkan’ karena dapat mengakibatkan pengkotakan pemikiran dan kreasi masyarakat dunia. Disebutkan juga tentang Jepang yang tidak ‘mematenkan’ kimono dan karatenya, juga India yang tidak ‘mematenkan’ kain sari dan musiknya (yang di Indonesia lantas berkembang menjadi dangdut), juga Cina yang tidak mempermasalahkan bahwa barongsai telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia (tidak hanya tradisi milik WNI keturunan Tionghoa).</p>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, agaknya dapat dimengerti ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang memandang batik sebagai tradisi turun-temurun di Jawa, kemudian berpendapat bahwa produk budaya idealnya ‘dipatenkan’ di internasional. Demikian yang terangkum dalam salah satu warta yang diterbitkan oleh Antara News tanggal 25 Agustus 2009.</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=74&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/12/tentang-hak-paten-dan-pendaftaran-budaya-ke-unesco/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perihal Pencurian dan Klaim Kebudayaan</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/perihal-pencurian-dan-klaim-kebudayaan/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/perihal-pencurian-dan-klaim-kebudayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:14:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Orang-orang menjadi heboh dan dibuat bersikap emosional berlebih. Koran-koran, majalah-majalah, newsletters, dan buletin-buletin memberitakan bahwa kebudayaan Indonesia dicuri dan diklaim oleh Malaysia. Mahasiswa-mahasiswa, ujung tombak reformasi, melakukan aksi demonstrasi, menuntut petinggi kampusnya untuk menolak mahasiswa asing. Petinggi-petinggi universitas memutuskan untuk menolak mahasiswa asing. Sekumpulan manusia memperjuangkan kausanya, menari massal di jalanan, melakukan penyapuan di jalanan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=66&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Orang-orang menjadi heboh dan dibuat bersikap emosional berlebih. Koran-koran, majalah-majalah, newsletters, dan buletin-buletin memberitakan bahwa kebudayaan Indonesia dicuri dan diklaim oleh Malaysia. Mahasiswa-mahasiswa, ujung tombak reformasi, melakukan aksi demonstrasi, menuntut petinggi kampusnya untuk menolak mahasiswa asing. Petinggi-petinggi universitas memutuskan untuk menolak mahasiswa asing. Sekumpulan manusia memperjuangkan kausanya, menari massal di jalanan, melakukan penyapuan di jalanan, dan rekrutmen pasukan untuk perang. Bendera negara dibakar. Warga sipil terprovokasi dan melakukan perusakan-perusakan tak bertanggung jawab. Para pemegang tampuk pemerintahan dihujat, disebut tak kenal etika, tak bermartabat, tak berwibawa, dan tidak pernah nyata bekerja. Sejumlah weblog dibangun untuk permainan olok-olokan. Bencana gempa dijadikan lucu-lucuan. Ribuan manusia di situs-situs jejaring sosial meneriakkan frasa yang sama: “Ganyang Malaysia!”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mengapa yang tersebut di atas terjadi? Jawabannya selalu jelas, dan tidak membutuhkan kompromi: Malaysia (lagi-lagi) mencuri dan mengklaim kebudayaan Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Orang-orang berseru nyaring, seolah-olah memiliki tiga mulut (dan hanya dua telinga), bahwa telah jelas Malaysia mencuri dan mengklaim kebudayaan Indonesia. Saya pun sempat terkecoh lama, ditipu oleh persepsi fanatik saya sendiri, bahwa Malaysia mengklaim banyak sekali kebudayaan negeri saya yang saya pahami sebagai “Malaysia mengakui dan menyebutkan bahwa budaya-budaya tersebut milik mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Ternyata persepsi saya melebihi fakta yang sebenarnya, bahwa senyatanya bukan tentang “ini milikku, bukan punyamu.” Mereka tidak menyebutkan klaim tersebut secara verbal atau bahasa, mereka hanya mementaskan dan menyiarkan bentuk-bentuk kesenian tersebut sebagai bagian dari identitas mereka. Apa hak mereka, demikian tanya saya. Kiranya saya yang terlalu bodoh, tidak memahami sejarah dan hakikat budaya. Bahwa mereka juga memiliki rasa handarbeni (Jawa: memiliki) kebudayaan-kebudayaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Salah seorang pelajar SMA berprestasi yang tinggal di Banda Aceh mengatakan bahwa adalah salah murni bila Malaysia mengklaim budaya-budaya Indonesia, memang terdapat kemiripan budaya (mungkin karena masih satu rumpun ras) tetapi bukan berarti share budaya. Ternyata pada kenyataannya, sharing budaya yang sama itu memang nyata terjadi karena latar belakang hubungan kedua negara di masa lampau, bukan perkara budaya mirip yang lantas disama-samakan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Disebutkan pula, tari pendet dari Bali tentu saja sangat tidak mirip dengan kebudayaan Malaysia. Ternyata ada pihak ketiga yang tanpa sepengetahuan dua pihak lainnya telah menayangkan sekilas tarian pendet untuk iklan pariwisata dengan negara tujuan Malaysia.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Terdapat oknum anonim yang membuat serentetan data tentang budaya-budaya Indonesia yang dicuri oleh Malaysia, mulai dari sejumlah naskah kuno dari berbagai tempat di nusantara, tarian-tarian daerah, lagu-lagu, masakan, dan kesenian lainnya. Tidak ketinggalan juga omong kosong provokatif yang apabila ditelusuri dengan seksama hanya membuat diri terbahak-bahak sambil menangis. Terbahak-bahak karena menertawakan kebodohan diri yang sampai bisa tertipu dengan omong kosong murahan. Menangis karena tidak semua orang yang mendengar omong kosong tersebut langsung mencari tahu kebenaran fakta yang ada sambil berteriak, “Sapere aude!”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sebagian besar bentuk kesenian yang konon dicuri dan diklaim oleh Malaysia dapat jelas dengan tulisan Siapa Gerangan Pemilik Budaya, yang mendahului tulisan ini. Mengenai klaim tari Pendet, yang pemberitaannya mengundang demonstrasi massal para seniman, emosi berlebihan para mahasiswa, hingga teriakan “Ganyang Malaysia!” oleh orang-orang melek teknologi di Facebook, jejaring sosial lainnya, maupun forum-forum diskusi di dunia maya, telah jelas dan dianggap final oleh kedua pihak negara yang bermusyawarah melalui EPG sebagai kesalahpahaman persepsi, walau di berbagai tempat informasi tersebut masih terkesan elit dan sedikit dikenal walau tidak pernah disembunyikan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">[Mohon klik pranala <a href="http://www.antaranews.com/print/1252486593">http://www.antaranews.com/print/1252486593</a> untuk membaca versi ramah cetak tulisan Guru Besar UI: Ada Salah Persepsi Soal Malaysia di situs berita Antara]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berita klaim Malaysia atas pulau Jemur juga sempat merebak. Orang-orang semakin terpancing untuk merasa marah. Padahal, apabila menyempatkan diri untuk mengunjungi situs asal yang menyebutkan bahwa pula Jemur (salah satu objek wisata di wilayah Kepulauan Riau) termasuk dalam objek wisata yang dimiliki oleh Malaysia, <a href="http://www.traveljournals.com/">www.traveljournals.com</a>, boleh jadi pembaca akan terperangah sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Situs tersebut adalah semacam situs komunitas para pelancong yang memfasilitasi para anggotanya untuk saling berbagi informasi tentang tempat-tempat wisata yang pernah dikunjungi, sebagai referensi untuk melancong. Barangkali di sana, ada wisatawan yang secara tidak sengaja (tanpa memiliki pengetahuan yang benar) atau sengaja (apapun tujuannya) memasukkan pulau Jemur yang pernah ia datangi dalam kelompok tujuan wisata negara bagian Selangor, Malaysia. Yang luar biasa, kekeliruan tersebut mampu memprovokasi banyak orang untuk berteriak, “Ganyang Malaysia!”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kekeliruan warta (kalau boleh saya sebut sebagai warta) dalam situs yang bahkan tidak mewakili seruas kelingking pun salah satu dari kedua negara yang berselisih tersebut, uniknya memiliki pengaruh yang luar biasa, dan muncul serta meluas di komunitas Indonesia sebagai pernyataan “Malaysia Mengklaim Pulau Jemur.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Perihal banyaknya naskah kuno yang konon dicuri dan diklaim oleh Malaysia, Tempo Interaktif edisi 9 Juli 2009 meliput tutur sejarawan Riau, Al-Azhar. Dipaparkan oleh Al-Azhar, Catatan Adat Lembaga Melayu Riau memperlihatkan bahwa lebih dari 60 naskah kuno tersebut berpindah tangan ke Malaysia karena keinginan Malaysia untuk menjadikan negaranya sebagai pusat kebudayaan Melayu dunia. Mereka dengan gigih mengumpulkan naskah-naskah kuno yang tersebar berserakan di seluruh Riau untuk diteliti, yang rata-rata bisa diperoleh dengan membeli seharga puluhan juta rupiah untuk masing-masing naskah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Akan semakin membosankan dan melelahkan apabila setiap topik diurai di tulisan ini. Tulisan ini hanya berniat untuk mendorong pembaca sekalian untuk mencari tahu kebenaran senyatanya informasi yang tersebar di berbagai media tentang pencurian dan klaim kebudayaan oleh Malaysia, dan mengambil kesimpulan sendiri dengan kebijaksanaan masing-masing. Seperti yang telah sering diungkapkan dalam berbagai kesempatan, “Nggak semua yang lo denger itu bener.”</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=66&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/perihal-pencurian-dan-klaim-kebudayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siapa Gerangan Pemilik Budaya</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/siapa-gerangan-pemilik-budaya/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/siapa-gerangan-pemilik-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:55:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Dalam catatan sebelumnya mengenai opini Warga Negara Indonesia, terdapat satu jawaban yang menarik, disampaikan oleh Arief Satya Budi. Jawaban tersebut saya kutip sebagai berikut: Hmm, sebenarnya ini masalah perbedaan paham. Di mana Indonesia yang nasionalismenya kuat di mana kebudayaan adalah milik nasional, sedangkan orang Malaysia menganggap itu merupakan “kebudayaan kaum.” Di mana Malaysia juga berasal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=62&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Dalam catatan sebelumnya mengenai opini Warga Negara Indonesia, terdapat satu jawaban yang menarik, disampaikan oleh Arief Satya Budi. Jawaban tersebut saya kutip sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Hmm, sebenarnya ini masalah perbedaan paham. Di mana Indonesia yang nasionalismenya kuat di mana kebudayaan adalah milik nasional, sedangkan orang Malaysia menganggap itu merupakan “kebudayaan kaum.” Di mana Malaysia juga berasal dari migran jawa dan sekitarnya di mana kebudayaan itu sudah mengakar di Malaysia juga seperti wayang kulit.. Tapi dalam beberapa hal seperti tari pendet memang kesalahan dari Malaysia. Dan untuk beberapa hal juga karena provokasi dari media massa yang manasin situasi.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Adi Lazuardi menyampaikan dalam salah satu warta yang dipublikasikan oleh Kantor Berita Antara tanggal 31 Agustus 2009, bahwa Malaysia merupakan negeri perantauan orang Indonesia. Disebutkan di sana bahwa hampir 80% ras Melayu di Malaysia adalah keturunan Indonesia, yang meliputi keturunan Aceh, Padang, Sumatera Utara, Jambi, Palembang, Jawa, Madura, Bawean, dan Bugis.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Salah seorang kawan belajar saya di FK UGM yang merupakan warga negara Malaysia, Isa Azzaki bin Zainal, bercerita bahwa kakeknya (ayah dari ayahnya) adalah orang Sumatra Barat. Bahkan terdapat pula kawan saya mahasiswa dari Malaysia yang bernama Fedlyliana binti Tukiran. Bagi pembaca yang belum paham, Tukiran adalah sebuah nama Jawa. Isa juga bercerita, bahwa terdapat suatu daerah di Semenanjung Malaysia yang ditempati oleh mayoritas orang Jawa, yang masih melestarikan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan di antara sesama keturunan Jawa. Dikisahkan Isa, suatu kali di acara perayaan, mereka berkumpul membicarakan sesuatu, dalam bahasa Jawa, sehingga warga lain yang bukan keturunan Jawa hanya terbengong sendiri karena tidak paham dengan yang mereka bicarakan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Najib Tun Razak yang merupakan perdana menteri Malaysia yang keenam, adalah juga seorang keturunan Bugis yang merantau ke Malaysia, demikian pula ayahnya yang menjadi perdana menteri Malaysia yang kedua. Ahmad Zahid Hamidi, menteri pertahanan Malaysia saat ini adalah seorang cucu dari penduduk asli Yogyakarta. Bahkan Rais Yatim, menteri penerangan Malaysia menghabiskan masa kecilnya di Sawahlunto, Sumatra Barat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam sebuah berita yang dipublikasikan oleh Kantor Berita Bernama tanggal 9 September 2009, dituliskan bahwa Djauhari Oratmangun, Ketua Pengarah ASEAN Kementrian Luar Negeri Indonesia, menyebutkan bahwa Reog Ponorogo merupakan tarian yang sudah diperkenalkan dan dipentaskan di Malaysia selama tiga generasi oleh para warga Ponorogo yang bermigrasi ke Malaysia di waktu silam. Pernyataan mengenai banyaknya orang Indonesia yang hijrah ke negeri jiran juga dibenarkan oleh guru saya, dr. Retno Ekantini, Sp.M. Diceritakan, pada masa kecil beliau, terdapat banyak sekali warga negara Indonesia yang pergi ke Malaysia untuk menjadi guru, beberapa di antaranya merupakan orang-orang yang beliau kenal dengan baik. Selanjutnya, beliau berkata, bahwa sebagian besar dari mereka tidak kembali lagi ke Indonesia, menjadi warga negara Malaysia, dan beranak-pinak di sana.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Apa konsekuensi dari hal tersebut? Tentunya, terdapat banyak sekali budaya dari Nusantara yang dibawa, dikembangkan, dan atau diasimilasikan dengan budaya masyarakat di daratan Malaya. Bentuk-bentuk kesenian yang dibawa ke daerah-yang-sekarang-bernama-Malaysia dan berkembang di sana selama beberapa generasi antara lain, wayang kulit, batik, lagu-lagu daerah, tarian-tarian daerah, dan sebagainya. Masyarakat Malaysia melihat kebudayaan merupakan kekayaan kaum, seperti halnya batik dan wayang kulit merupakan milik orang Jawa di Indonesia, keduanya juga merupakan milik orang Jawa di Malaysia. Perasaan memiliki tersebut begitu dalam dan diwariskan pada anak cucu mereka, seperti halnya di Jawa, sehingga budaya tersebut senantiasa lestari dan dibanggakan oleh pemiliknya di kedua negara. Demikian halnya berlaku untuk bentuk kesenian dan kebudayaan yang lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sementara itu, Indonesia yang merupakan kesatuan dari beribu-ribu suku bangsa dan budaya di nusantara, memperkenalkan konsep kebudayaan nasional kepada para generasinya (saya mulai memahami materi ini melalui mata pelajaran PPKN di tingkat SLTP), bahwa kebudayaan daerah adalah unsur kebudayaan nasional yang dimiliki dan wajib dilestarikan oleh warga negara Indonesia. Konsep tersebut sangat perlu untuk ditanamkan pada generasi negeri ini, karena dengan demikian rasa persatuan antara beribu-ribu suku tersebut dapat terjaga dalam wadah NKRI yang senantiasa utuh. Konsekuensinya, setiap suku yang ada di Indonesia, selain berkewajiban untuk bangga, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan sukunya sendiri, juga harus ikut merasa bangga, mengembangkan, dan melestarikan kebudayaan suku lain yang masuk dalam tataran suku-suku bangsa di Indonesia. Dengan demikian, kebudayaan nasional akan tetap lestari, karena setiap unsur-unsurnya, yakni kebudayaan daerah, dijaga bersama-sama oleh seluruh warga negara Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ketidakpahaman warga kedua negara mengenai hubungan antara negara mereka di masa silam, juga ketidakpahaman mengenai kedua konsep kebudayaan yang berbeda tersebut merupakan hal yang paling berperan dalam timbulnya perselisihan dan suburnya provokasi konflik, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Pun di dunia maya! Hal yang sama disampaikan oleh salah seorang guru besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. DR. Hikmahanto Juwana, seperti disiarkan oleh Kantor Berita Bernama dan juga Antara tanggal 9 September 2009, bahwa pemerintah kedua negara perlu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tentang berbagai persepsi yang salah, juga latar belakang tumbuhnya budaya bersama antara kedua negara. Hal tersebutlah yang dapat dilakukan untuk meredam situasi yang bisa memicu kebencian yang lebih jauh masyarakat Indonesia terhadap Malaysia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam pandangan saya pribadi, kisah mengenai tranfer kebudayaan juga terjadi pada penduduk Eropa yang bermigrasi ke daratan Amerika beberapa abad silam. Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Eropa yang kala itu hijrah ke Amerika, mulai dari bahasa, bentuk-bentuk kesenian, budaya kerja, buah-buah pemikiran, dan sebagainya dibawa serta sehingga membentuk budaya Amerika di benua tersebut, yang bahkan mampu menjadi lebih dominan dan dikenal daripada budaya Amerika asli, yakni budaya yang dimiliki oleh suku-suku Indian. Namun sejauh ini yang saya baca dari buku-buku Sejarah, belum pernah terdapat perselisihan maupun konflik terkait kebudayaan terjadi di sana.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Selanjutnya, terdapat satu hal yang tidak boleh terlupa untuk diperhatikan. Pada masa yang lampau, ketika Malaysia dan Indonesia belum terwujud sebagai <em>two distinct nations</em>, dan pemerintahan kerajaan-kerajaan wilayah nusantara dan daratan Malaya masih berjaya, batas teritorial antarkerajaan bukanlah garis pemisah kaku yang juga menjadi garis batas antara kebudayaan dari masing-masing wilayah, penduduk dan pedagang dapat dengan bebas melintas dan menjalankan urusan mereka. Kemudian petualang antarkerajaan akan pulang ke rumahnya dengan membawa budaya baru dari tempat lain yang mereka kunjungi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Apabila diperkenankan, saya hendak mengutip latar belakang kajian realitas sosial budaya di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, dari Forum Kajian Antropologi Indonesia (<span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://fkai.org/">http://fkai.org</a></span></span>) sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pengetahuan awam masyarakat Indonesia tentang kesakralan wilayah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kurikulum pendidikan nasional yang diterjemahkan dalam pelajaran-pelajaran geografi, kewarganegaraan yang membentuk persepsi geopolitis anak sejak dini. Narasi ideologis negara telah membentuk dan membakukan pemahaman umum bahwa seolah-olah kesatuan dan keajegan wilayah Indonesia telah ada sejak dulu (misalnya, kesinambungan Indonesia sebagai turunan teritorial kerajaan Majapahit) dan bahwa rakyat Indonesia sudah ‘ditakdirkan’ untuk bersatu sebagai sebuah bangsa sejak zaman dahulu kala.</p>
<p>Narasi negara ini sering mengaburkan fakta bahwa Indonesia sesungguhnya terbentuk secara historis oleh keanekaragaman kultural dalam bentuk pertemuan berbagai proses sosial, identitas etnis, ekonomi, politik maupun pengalaman kolonialisasi yang telah terjadi dalam ruang wilayah yang jauh lebih luas dari batas wilayah negara Republik Indonesia yang kita kenal sekarang ini. Komunitas-komunitas di perbatasan memiliki pemahaman dan konsepsi teritorial yang berbeda maupun sikap pragmatis-rasional, yang sering dianggap tidak kompatibel dengan konsepsi teritorial maupun kewarganegaraan yang dianut oleh negara.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dewasa ini, terdapat beberapa kelompok etnis di Indonesia yang penyebarannya juga mencakup wilayah negara tetangga. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa hubungan kultural maupun sosial di Indonesia memiliki batas yang berbeda dengan batas formal NKRI.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Selain itu, boleh jadi di tempatnya yang baru suatu kebudayaan berkembang jauh lebih pesat dan luar biasa daripada di tempat asalnya, atau sebaliknya. Sehingga kepesatan perkembangan kebudayaan di suatu wilayah bukanlah hal yang dapat membuktikan bahwa daerah tersebut merupakan asal dari bentuk budaya tertentu. Pun fakta bahwa seringkali di berbagai daerah di belahan dunia yang lain, juga terdapat suatu kebudayaan yang mirip dengan budaya yang ada di belahan bumi ini, bahkan dengan bukti artefak purbakala yang sama-sama lampaunya, menjadikan kesulitan dalam menentukan dari mana sebetulnya asal dari suatu budaya dan siapa pemiliknya yang sebenarnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Batik, sebagai contoh. Batik, sebutan masa kini yang dikenal luas di seluruh dunia untuk kain yang diwarnai dengan motif-motif tertentu menggunakan bahan warna pencelup, telah dikenal luas di Timur Jauh, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan India sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Meskipun merupakan suatu kemungkinan bahwa budaya ini berkembang secara mandiri di masing-masing tempat, disebutkan oleh <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.batikguild.co.uk/">http://www.batikguild.co.uk</a></span></span> bahwa lebih mungkin batik berasal dari daratan Asia yang selanjutnya menyebar menuju kepulauan di sekitar semenanjung Malaya. Namun demikian, dari mana pun asalnya, tidak dapat dipungkiri bahwa batik paling baik dan pesat berkembang di Pulau Jawa, Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Namun, benarkah asal dan kepemilikan tersebut mesti menjadi isu yang sangat penting untuk mendominasi ranah pemikiran, diskusi, serta aksi dalam usaha pelestarian budaya dan peradaban? Bahkan untuk dijadikan suatu isu yang memicu dan memacu konflik? Jika memang demikian, barangkali perlu direnungkan kembali, mengapa leluhur pencipta budaya yang diperselisihkan dulunya tidak memprivatkan kebudayaannya, tetapi justru menyebarkan atau membiarkan budaya tersebut tersebar ke wilayah lain dari tempat asalnya?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Atau barangkali, para leluhur kita di sini (atau barangkali leluhur mereka di situ atau leluhur mereka yang jauh di sana), para pencipta sebenarnya dari kebudayaan-kebudayaan tersebut, sesungguhnya tidak pernah mempermasalahkan dan justru berbahagia apabila kebudayaan mereka dikembangkan dan dilestarikan oleh penduduk sebumi lainnya? Hanya Tuhan Mahatahu-lah yang mahamengetahuinya, kita hanya dapat bertanya dan mengira-ngira jawabannya (serta berselisih paham tentangnya).</p>
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=62&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/siapa-gerangan-pemilik-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Opini Mereka (WNI) tentang Perselisihan Indonesia-Malaysia</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/opini-mereka-wni-tentang-perselisihan-indonesia-malaysia/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/opini-mereka-wni-tentang-perselisihan-indonesia-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Beritanya terlalu dibesar-besarkan, sehingga saya mencurigai adanya konspirasi memecah belah Indonesia-Malaysia. Tinggal nyari tahu, siapa yang bakal diuntungkan jika kita perang. Malaysia adalah negara asal Upin dan Ipin. Mereka bagus-bagus-bagus. Sementara Indonesia adalah negara asal Si Pitung, Si Buta dari Goa Hantu, Suster Ngesot, maupun Jelangkung. Mereka hebat. Malaysia.. Astaghfirullah.. Hmm, bikin kisruh juga tuh.. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=59&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Beritanya terlalu dibesar-besarkan, sehingga saya mencurigai adanya konspirasi memecah belah Indonesia-Malaysia. Tinggal nyari tahu, siapa yang bakal diuntungkan jika kita perang.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Malaysia adalah negara asal Upin dan Ipin. Mereka bagus-bagus-bagus. Sementara Indonesia adalah negara asal Si Pitung, Si Buta dari Goa Hantu, Suster Ngesot, maupun Jelangkung. Mereka hebat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Malaysia.. Astaghfirullah..</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Hmm, bikin kisruh juga tuh.. Tapi menurutku, kita harus lihat dari sisi Malaysia dulu. Berita-berita di Malaysia tentang ini gimana.. N yang pasti, kita pasti menuai apa yang kita tanam. Itulah Indonesia, segala sesuatu yang Indonesia dapat pasti masalah awal ada di Indonesia.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Menurutku, Malaysia menganggap Indonesia (pemerintah) ga “tegas n berwibawa”. Lihat aja mereka (Malay) dah nyindir Indonesia dari dulu, tapi ga ada langkah tegas dari pemerintah, sehingga Malay jadi makin lebih berani nyindir Indonesia. Harusnya sekali-kali pemerintah Indonesia “menggertak” mereka.. Jangan langkah diplomatis terus, diplomatis rentan “main uang.”</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kekanak-kanakan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Menurutku, Indonesia over-react. Kalau ada negara nyolong dari negara lain kan biasa. Ada temenku di twitter yang bilang Indonesia dah njiplak IP dari banyak negara lain, kek Korea atau Taiwan juga kok. Cuma mereka belum komplain aja.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Eh? Ng.. Aku cuma tahu sedikit banget karena aku ndak ada teve dan koran. Aku ndak ikutan dulu deh. Dan ini kayaknya bakalan panjang sementara aku juga lagi harus ngebut belajar. Maaf ya. Makasih buat ngajakin!</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Malaysia tuh arogan banget. Aku ga gitu loyal dengan Indonesia, karena negara kita ini begitu berantakannya, tapi aku tetep ga bisa terima liat negaraku dihina dan dirampok. Orang yang mengambil milik orang lain itu namanya pencuri dan pembohong, ga tau adat dan ga punya malu. Waduh, kok jadi emosi gini.. ^^; Btw, kira-kira konflik ini terjadi secara kebetulan aja atau memang direncanakan (ada provokasinya) ya? Mana di sini juga ada anak-anak Malaysia, hubungan jadi jelek deh, ikut panas juga..</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Tiap orang Indonesia yang lihat berita dari media-media Indonesia pasti sangat jelas akan benci banget sama Malaysia.. Kalau pendapatku pribadi sih jangan langsung percaya mentah-mentah sama media. Kadang-kadang mereka lebay agar berita mereka laku. Aku kalau sudah dengar dari media pihak sana, baru berani berkomentar, El..</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kayak anak kecil dua-duanya.. Yang satu iseng, yang satu gampang terprovokasi, ngamuk-ngamuk tapi ga bisa balas..</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Malaysia: ga punya budaya dan etika. Indonesia: gampang panas, ga ngerti budaya tapi nek tau-tau diklaim jadi sok heboh banget, padahal ngerti wujud budayane we kagak. Cobo wae takon, ngerti atau suka gamelan ga? Mesti do menjawab kagak. Tapi nek misal malingsial klaim mesti sok heboh dewe. Ngono kok meh melestarikan budaya. Hahaha.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Mestinya pemerintahan Indonesia lebih tegas, jadi mereka akan takut kalau macem-macem.. hehe..</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Hmm, sebenarnya ini masalah perbedaan paham. Di mana Indonesia yang nasionalismenya kuat di mana kebudayaan adalah milik nasional, sedangkan orang Malaysia menganggap itu merupakan “kebudayaan kaum.” Di mana Malaysia juga berasal dari migran jawa dan sekitarnya di mana kebudayaan itu sudah mengakar di Malaysia juga seperti wayang kulit.. Tapi dalam beberapa hal seperti tari pendet memang kesalahan dari Malaysia. Dan untuk beberapa hal juga karena provokasi dari media massa yang manasin situasi.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Rakyat Indonesia HARUS belajar lagi untuk mendewasakan pikiran dan tidak bertindak gegabah untuk menyimpulkan sesuatu. Banyak fakta yang saya temukan bahwa ternyata kita sedang DIPERMAINKAN OLEH MEDIA. Persengketaan Budaya yang dimunculkan di media sebagian besar disampaikan dengan secara tidak proporsional. Hati-hati dalam menyaring INFORMASI!</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Pemerintah Malaysia tukang ribut, pemerintah Indonesia ga punya wibawa, rakyat keduanya mudah dipancing emosinya, kedua negara diadu domba pihak ketiga.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Lagi-lagi Malingshit.. Negara legally maling, rasis, and muna. (Buat joke, coba buka profile facebook-ku, kayake masih ada link ke forum Kaskus. Ngakak aku).</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Seharusnya pemerintah Indonesia harus lebih tegas! Jangan seperti macan ompong. Saya yakin SBY dapat menyelesaikannya dengan bijak, mengingat beliau petinggi di Angkatan Pertahanan Negara sebelumnya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Nasionalisme yang sesungguhnya itu yang menyikapi perselisihan dengan tetap tenang dan berkepala dingin.. Sehingga sebagai seorang cendekia, kita harus tunjukkin usaha kita yang lebih baik dari mereka.. Belajar lebih rajin, mengerjakan tugas lebih baik, mencintai produk dan budaya bangsa sendiri, serta tunjukkan sopan santun dan keramahan bangsa Melayu yang sesungguhnya</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">No problem with most of Malay people, tapi pemerintah Malay bermasalah tuh. Usul: Malay jadiin propinsi ke 34 aja.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">No comment.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Sebel, jelas. Tapi, Harus Objektif, kesalahan ya ditempatkan sesuai porsinya. Urusan hukum biar ditangani sama yang berwenang. Yang penting justru gimana kita sebagai WNI pay more respect to our culture.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kalau ini menyangkut tentang pengklaiman yang dilakukan oleh Malaysia, apa yang dibuat Malaysia itu murni salah. Memang kita punya kemiripan budaya sama negeri jiran itu, tapi bukan berarti kita share budaya, kan? Ini udah parah karena sampai tari pendet pun diklaim, jelas-jelas budaya Bali beda banget dengan budaya Melayu (Malaysia), kok diklaim? Indonesia sendiri juga terkesan santai saja, harusnya segala budaya yang kita punya dipatenkan di internasional.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tentang Indonesia dan Malaysia itu.. Ambil hikmahnya saja. Kalau kita ga mau kecolongan ya, harus mau sedikit repot untuk menjaga. Kejahatan bukan saja karena niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan (Bang Napi)</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kadang orang kalau udah ngerasa “lebih” jadi sombong dan arogan. Ya kaya Malaysia itu. Tapi kalau dilihat-lihat yang pelakunya bangsa cuma sedikit banget, selebihnya oknum-oknum Malaysia aja, namanya juga manusia, orang Indonesia juga banyak yang begitu. Orang Malaysia yang baik dan ga cari onar juga banyak. Beberapa orang Indonesia juga banyak yang panasan tapi pemerintahnya ga tegas. Jadilah heboh di akar rumput aja, internet, dan sebagainya. Kalau ada khilafah hal kaya gini ga bakal ada. Padahal Indonesia dan Malaysia banyak muslimnya tapi jadi kaya lupa kalau kita saudara.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=59&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/opini-mereka-wni-tentang-perselisihan-indonesia-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa Tasikmalaya dan Perselisihan Indonesia-Malaysia</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/gempa-tasikmalaya-dan-perselisihan-indonesia-malaysia/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/gempa-tasikmalaya-dan-perselisihan-indonesia-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 05:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUDAYAAN]]></category>
		<category><![CDATA[NASIONALITAS DAN KENEGARAAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 2 September lalu, saya sempat dibuat terkejut oleh satu kabar yang tersebar dengan amat meluas di komunitas maya, terutama Facebook. Kabar tersebut memberitakan bahwa gempa yang terjadi di Indonesia pada hari itu (berkekuatan 7,3 SR) diklaim oleh Malaysia. Dalam salah satu versinya dijelaskan bahwa Malaysia mengklaim pusat gempa berada di Kuala Lumpur, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=56&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Pada tanggal 2 September lalu, saya sempat dibuat terkejut oleh satu kabar yang tersebar dengan amat meluas di komunitas maya, terutama Facebook. Kabar tersebut memberitakan bahwa gempa yang terjadi di Indonesia pada hari itu (berkekuatan 7,3 SR) diklaim oleh Malaysia. Dalam salah satu versinya dijelaskan bahwa Malaysia mengklaim pusat gempa berada di Kuala Lumpur, yang pada kenyataannya berada di salah satu kota di Jawa Barat.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Kala itu saya merasa heran, bagaimana mungkin perkara mengenai pusat gempa saja dapat diperselisihkan? Metode pengukuran yang digunakan bersifat universal, tapi masih mampu menimbulkan perbedaan interpretasi yang amat signifikan. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Berangkat dari pertanyaan tersebut, kala itu saya mulai membuat hipotesis tentang hoax (persangkaan saya terlalu berlebihan, seperti biasanya). Saya mengadakan penelusuran melalui Google Search untuk mencari teks asli dari kabar tersebut. Namun, setelah melakukan penelusuran hingga mencapai saturasi, teks yang tersebar di dunia maya nampaknya memang hanya teks pendek yang sedikit berbeda pada masing-masing versi, dengan inti maksud yang sama. Saya tertawa, menertawakan kebodohan saya sendiri. Rupanya hanya lelucon yang sudah saya salah sangkakan sebagai hoax.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Sejurus kemudian, saya berhenti menertawakan diri saya sendiri, dan mulai merasa miris untuk dua alasan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Yang pertama karena saya mulai mempersepsi kabar tersebut sebagai suatu fitnah, alih-alih lelucon. Suatu berita buruk yang tidak benar, yang tidak selalu dapat dipersepsi sebagai lelucon sambil lalu oleh setiap orang. Bukan merupakan hal yang mustahil untuk terjadi, terdapat sejumlah orang yang mempersepsi kabar tersebut sebagai realitas yang benar adanya (buktinya, saya saja kala itu tidak langsung paham bahwa berita tersebut hanya kabar bohong). Selanjutnya, kesalahan persepsi tersebut dapat menimbulkan kejadian yang bahkan kurang nyaman untuk dibayangkan. Namun, karena saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas, saya merasa perlu memberikan suatu simulasi kisah. Saya mempersilakan pembaca sekalian untuk menyanggah saya apabila contoh yang saya berikan terkesan tidak realistik dan mengada-ada saja.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Bahwa kabar tersebut sampai kepada beberapa orang warga RW X. Sejumlah warga itu mempercayai kebenaran kabar yang di bagian negeri yang lain dipersepsi sebagai lelucon tersebut. Karena bukan merupakan isu panas yang pertama, dan bahkan terjadi setelah rentetan kisah perselisihan lain yang telah dipublikasikan melalui berbagai media, kabar tersebut menjadi hal yang akhirnya menyulut emosi warga yang saya ceritakan. Kebetulan di area pemukiman tersebut tinggal beberapa warga negara Malaysia yang tengah menimba ilmu di Indonesia (mungkin beberapa orang dokter muda asal negeri jiran lulusan dari FK UGM yang mendapat tugas belajar di Desa A, di pelosok kabupaten B di provinsi C, Indonesia). Karena bara emosi yang ada semakin diprovokasi oleh banyak isu panas, akhirnya menimbulkan berbagai perilaku penganiayaan (pemukulan, pembacokan, pemerkosaan, dan beberapa tindak kriminal lain yang sering terjadi di wilayah konflik) atau bahkan yang lebih menakutkan daripada hal tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">[Boleh saja saya disebut paranoid, tetapi saya membuat simulasi ini berdasar pada pengalaman masa lalu bangsa kita yang mudah diprovokasi hingga terjadi banyak tragedi kemanusiaan, seperti pemberontakan G30S/PKI (ibu saya bercerita, betapa di hari itu di Mojokerto ada ribuan orang dibunuh dan mayat-mayat bersimbah darah hanya dibuang di bantaran sungai Brantas), tragedi atas warga keturunan Tionghoa (dan juga nonketurunan Tionghoa) bulan Mei 1998 di mana bangunan, properti, bahkan jiwa-jiwa dirampas secara paksa, dan banyak sekali konflik antaretnis yang berakhir dengan tindak kekerasan yang mengerikan.]</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Penilaian akhirnya saya tinggalkan pada kebijaksanaan para pembaca sekalian.</p>
<p>Alasan kepedihan batin saya yang kedua, bahwa menjadikan sebuah kejadian bencana sebagai sarana cipta sebuah lelucon adalah hal yang sungguh sama sekali TIDAK BISA SAYA TOLERANSI (mohon maaf, saya menggunakan huruf kapital). Di sejumlah tempat bencana tersebut menimbulkan luka (baik secara jasmani maupun batin), akan tetapi di tempat lain di negeri yang sama, bencana tersebut menjadi alat pembuatan lelucon untuk menyindir negara tetangga sambil tertawa terbahak-bahak walau hanya melalui ketikan kibor. Tidakkah kita mesti punya rasa malu pada Tuhan untuk hal ini?</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada hari tersebut, setelah menyadari adanya dua hal yang membuat saya sedih ini, saya menyampaikan ketidaksenangan saya dalam komentar status facebook salah seorang teman yang juga menyalin ‘lelucon’ tersebut di status facebooknya. Tentu saya sampaikan pula, dua alasan yang melatarbelakangi ketidaksenangan saya. Namun apa lacur, saya justru disebut secara implisit sebagai orang kurang akal (sambil ditunjukkan latar belakang pendidikan saya, yakni Pendidikan Dokter, yang membuatnya terasa ironis) dan tidak mencintai negara saya. Semakin sedih rasanya.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">Namun demikian, saya bersyukur, beberapa orang yang menyalin dan menyebarkan ‘lelucon’ tersebut, setelah saya ingatkan, mengganti status facebooknya dengan ucapan bela sungkawa atas bencana gempa yang telah terjadi. Pun masih terdapat kawan-kawan yang mendoakan keselamatan dan ketabahan bagi para korban gempa, di antara kawan-kawan lain yang tertawa terbahak-bahak menertawakan lelucon memuakkan yang dianggap lucu ini. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh-Nya. Amin.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">**Catatan ini sebenarnya telah selesai diketik pada tanggal 2 September 2009 pukul 23.44 WIB. Pada waktu yang sama, telah masuk dua belas jawaban survei persepsi mengenai perselisihan Indonesia-Malaysia dari teman-teman sekalian, yang juga telah saya salin ke aplikasi penyunting kata. Namun, sesaat setelahnya, saya menjadi sangsi jangan-jangan saya sudah terlalu berlebihan dan paranoid dalam tulisan ini. Apalagi simulasi yang saya berikan terlalu mengerikan dan boleh jadi justru memberikan inspirasi yang tidak baik. Hingga akhirnya catatan yang rencananya akan saya publikasikan di facebook tanggal 3 atau 4 September 2009 ini, masih tersimpan rapi dalam komputer saya. Walaupun sore hari pada tanggal 4 September saya sempat merasakan lagi, bahwa tulisan saya ini tetap harus dipublikasi meski melalui beberapa suntingan terlebih dahulu, setelah membaca kabar tentang perusakan rumah kost mahasiswa Malaysia di kawasan Pogung, yang tidak jauh dari kampus UGM di Harian Jogja edisi tanggal tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="id-ID" align="justify">
<br />Posted in KEBUDAYAAN, NASIONALITAS DAN KENEGARAAN  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=56&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2009/09/11/gempa-tasikmalaya-dan-perselisihan-indonesia-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rindu Padamu</title>
		<link>http://dianpramesti.wordpress.com/2008/09/08/rindu-padamu/</link>
		<comments>http://dianpramesti.wordpress.com/2008/09/08/rindu-padamu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 08:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dianpramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[SENI DAN KOMPOSISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dianpramesti.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[aku bernyanyi buatmu karena ingin mendengarkan lagu milikmu kutunjukkan padamu tanah favoritku karena aku ingin mengenal negeri kesayanganmu kubiarkan diriku di balik sayapmu karena aku sangat ingin melindungimu kuperlihatkan lukaku padamu karena aku ingin menyembuhkanmu aneh sekali, tapi inilah caraku buat berkata: aku rindu padamu.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=48&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku bernyanyi buatmu<br />
karena ingin mendengarkan lagu milikmu</p>
<p>kutunjukkan padamu tanah favoritku<br />
karena aku ingin mengenal negeri kesayanganmu</p>
<p>kubiarkan diriku di balik sayapmu<br />
karena aku sangat ingin melindungimu</p>
<p>kuperlihatkan lukaku padamu<br />
karena aku ingin menyembuhkanmu</p>
<p>aneh sekali, tapi inilah caraku buat berkata: aku rindu padamu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dianpramesti.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dianpramesti.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dianpramesti.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dianpramesti.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dianpramesti.wordpress.com&amp;blog=3949109&amp;post=48&amp;subd=dianpramesti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dianpramesti.wordpress.com/2008/09/08/rindu-padamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">dianpramesti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
